FF KeiCha ‘Will Never End’ {Part 9}

Author : Ratri Ismaniah aka Shin Chajeong

Genre : Romance

Rating : PG15

Cast : Shin Chajeong

Suzuki Kei

Sebelumnya aku pengen ucapin..

Saengil Chukahamnida.. Saengil Chukahamnida.. Saranghaneun uri papi.. Saengil Chukahamnida..

Suzuki Kei aka Kevin Pradana hari ini, tgl 13 Januari 2012 berulang tahun.. Andai ia masih ada sekarang umurnya 23 tahun..

Saengil Chukahae papiku sayang.. Aku menjadi orang terakhir yang mengucapkan Ultah padamu kan?

Dimanapun kamu berada semoga selalu dalam lindungan-Nya..

FF ini di ambil dari Perjalanan kisah cinta Kei-Chajeong Couple dari Sekolah Suju.. Chajeong itu aku sendiri, pendiri Sekolah Suju & Professor juga.. Aku punya couple Kei, salah satu murid disana.. Ini kisah kami.. FF ini aq persembahin untuk mengenang Almarhum Kei..

Warning: Biarpun di ambil dari kisah nyata.. Tapi ini fanfiction, jadi tetap ada fiksinya.. Posternya itu Jiro & Cyndi “Momo Love”, bukan foto kami.. XD

Yang belum liat Part sebelumnya klik disini.. Part 1 .. Part 2 .. Part 3 .. Part 4 .. Part 5 .. Part 6 .. Part 7 .. Part 8

=====KeiCha=====

“Mami. Bangun.”

Chajeong menggeliatkan tubuhnya sedikit mendengar suara Kei. Perlahan ia membuka matanya, badannya terasa sangat berat dan lemas. Selimutnya ia tarik kembali untuk menutupi dirinya dan kembali tertidur.

“Mi, bangun. Nanti kita telat ke sekolah.” Kei berusaha mengguncang istrinya pelan. Tumben, wanita ini bangun terlambat, biasanya pagi-pagi ia yang cerewet bilang tidak boleh telat ke sekolah.

“Mami izin ngajar dulu yah pi.”

Kei menyikap selimut yang menutupi Chajeong. “Mami sakit?” tanyanya khawatir.

“Hmmm. Kepala mami pusing.” Jawabnya masih mengerjap pelan, membiasakan cahaya masuk ke dalam matanya.

Kei menempelkan tangannya di kening Chajeong. “Aisshhh! Mami agak demam. Mami istirahat aja, papi bikinin makanan dulu.” Chajeong mengangguk pelan sedangkan Kei segera melesat ke dapur.

Ia membuka matanya lagi saat suaminya telah kembali. Ia tak tau seberapa lama ia tertidur lagi, badannya terasa berat. “Mami makan dulu yah, papi udah masakin bubur abalon.”

Kei duduk disamping istrinya, ia meniup pelan bubur yang dibawanya dan akan menyuapi Chajeong. Belum sempat sesuappun masuk ke mulutnya, tapi ia berasa ingin muntah.

“Mami kenapa?” Kei menaruh kembali bubur yang dibawanya.

“Mami gak mau makan bubur abalon pi. Mami mau makan spaghetti dan jus strawberry. Papi buatin yah.”

Kondisi Chajeong sangat lemah, ia jarang merajuk seperti ini membuat Kei iba. Dengan sabar Kei membawa kembali bubur yang sudah susah payah dibuatnya tapi tak termakan. Ia kembali berkutat di dapur lagi untuk membuat pesanan sang putri yang lagi terbaring sakit.

Selama Kei sibuk urusan dapur, Chajeong bangun dari tempat tidurnya. Ia meraih tasnya dan memasukkan sebuah benda tipis berwana putih kedalam saku cardigannya. Perlahan ia berjalan menuju ruang makan dan duduk di sana, menunggu suaminya.

“Loh. Kok mami disini. Mami istirahat aja di kamar.” Kei terkejut melihat istrinya sudah duduk di ruang makan. Kedua tangannya sibuk membawa sepiring spaghetti dan jus strawberry.

Chajeong tersenyum tipis, suaminya itu tak sadar sejak tadi celemeknya masih belum di lepas. “Bawa kesini pi. Mami mau makan disini aja.”

Masih sabar, Kei menghidangkan makanan pesanan sang putri di meja makan. Chajeong menggulungkan garpunya di atas tumpukkan mie yang bersaus tomat itu. Ia memasukkan suapan pertama. “Hmmm. Masita. Mi udah kenyang, papi aja yang makan.” Chajeong menyodorkan piringnya di depan Kei membuat namja itu membulatkan matanya.

“Mwo?! Mami baru makan satu suap, masa udah kenyang.”

Chajeong menganggukkan kepalanya semangat. “Ne. Papi yang makan sekarang.”

“Jah. Iron!” Kei mendumal pelan. Ia sedikit kesal, tadi ia masak bubur tapi tak di makan, sekarang masak spaghetti cuma dimakan satu suap. Tapi ia tetap memakannya, ia tak dapat menentang keinginan istrinya itu. Ia tak mau Chajeong marah padanya lagi karena tidak mau makan, pernah suatu ketika ia dan Chajeong diam-diaman selama seharian cuma karena Chajeong ngambek Kei tidak mau makan saat disuruh Chajeong.

Chajeong tersenyum-senyum sendiri, geli melihat suaminya yang makan dengan tetap mengkerucutkan bibir. “Udah selesai makannya?” tanya Chajeong mengejek saat Kei melahap suapan terakhir.

“Ne.” jawabnya kesal.

“Papi ingat ini hari apa?” tanya Chajeong masih senyum-senyum.

“Hari Jumat. Wae?” Chajeong menaikkan sebelah alisnya, seolah ingin mengatakan kau tak ingat sesuatu. Kei tampak berpikir lagi, tak mungkin istrinya itu bertanya tanpa alasan. Aha, ia baru sadar sesuatu. “Tanggal 13 Januari…”

Chajeong tersenyum lebar. “Saengil Chukahae, papiku sayang.” Chajeong memeluk suaminya.

“Gomawo, mami. Papi baru ingat ini hari ulang tahun papi.” Katanya dengan memeluk balik istrinya.

Chajeong melepaskan pelukan mereka. “Mami punya kado special buat papi.” Ia merogoh saku cardigannya dan menyarahkan sebuah amplop kecil.

“Apa ini?” Kei menatap Chajeong heran.

“Buka dulu pi.” Chajeong masih tersenyum-senyum sendiri. Kei penasaran isi amplop itu, ia membuka dan membaca perlahan baris perbaris secarik kertas yang ada didalamnya.

Senyum sumigrah terukir jelas diwajahnya. “Ini… Kau hamil?” Ia menatap Chajeong menanyakan kebenaran isi surat itu, Chajeong hanya bisa menganggukkan kepala sambil terus tersenyum.

Kei langsung memeluk Chajeong gembira. “Akhirnya… Gomawo, jagi. Ini kado yang paling membahagiakan buatku.” Kei mencium pipi Chajeong kilat dan mengeratkan pelukkannya.

Waktu berputar cepat. Hampir dua tahun usia pernikahan mereka. Kini tanpa terasa sudah berada di puncak musim dingin, tak lama lagi Kei akan menginjak kelas terakhir di Sekolah Suju. Sudah banyak waktu sulit yang mereka lalui, kecelakaan Kei, penyakit Kei, teror yang mengantui Chajeong, pertunangan, pertentangan keluarga, cemburu, pertengkaran mereka, ikut biro jodoh, hingga mereka nyaris bercerai.

Tidak semua masalah dapat mereka selesaikan, banyak masalah yang masih tertinggal untuk PR di hidup mereka sekarang ini. Mereka belum sepenuhnya saling terbuka untuk banyak hal. Masih banyak ujian yang siap menanti pernikahan mereka.

Cinta. Hanya itu yang mereka miliki untuk menghadapi segalanya. Menentang norma-norma yang ada, mendobrak batas pemisah hubungan seorang guru dengan muridnya. Menguatkan mereka dalam setiap permasalahan yang dihadapi.

Kini cinta itu diperkuat dengan keadiran calon cabang bayi buah hati mereka. Kehadiran seorang anak adalah hal yang paling ditunggu dalam sebuah pernikahan. Mereka tak memikirkan status mereka yang kini masih Guru dan Murid, toh mereka telah menikah. Tak ada salahnya kan ingin memiliki seorang anak?

=====KeiCha=====

Hawa sudah mulai menyejuk, pertanda musim dingin akan usai. Kehamilan menjadi ajang kejahilan Chajeong ke suaminya. Terkadang ia akan meminta Kei membelikan makanan yang susah dicari.

Seperti saat di sekolah, mereka menghabiskan waktu istirahat di atap sekolah. Biasanya Chajeong membuatkan mereka makanan, tapi ia menjadi malas masak sejak hamil.

“Pi. Mami lapar. Ade bayinya mau makan rujak.” Katanya merajuk.

Kei mengerutkan keningnya. “Rujak? Makanan apa itu?”

“Itu loh. Buah-buahan yang dikasih bumbu kacang.” Kei tambah mengerutkan keningnya. “Tapi di sekolah mana ada makanan seperti itu, mi.”

“Mami mau rujak. Sekarang! Papi mau baby-nya ileran?”

“Ne! papi cariin rujaknya sekarang.”

Saat sudah dibelikan malah Chajeong ogah memakannya. “Papi kan tau mi punya penyakit mag, kenapa pi malah beliin ini.”

Kei menganga lebar. “Tadikan mami yang minta dibeliin rujak.”

“Mami maunya tadi, papi lama sih belinya jadi mami udah makan ramyeon duluan di kantin. Pi aja yang makan. Ini permintaan baby.” Ujarnya santai sambil mengelus perutnya.

Setelah Kei makan rujak itu ia malah sakit perut, dia kan punya penyakit mag sama seperti istrinya. Belum sampai disitu kejahilan Chajeong, dirumahpun ia masih suka iseng ke Kei. Seperti saat Kei sedang asik nonton bola di TV, Chajeong langsung duduk di sebelah Kei mengeluh pusing.

“Pi. Mami pusing, kayaknya rumah kita banyak debunya. Pi bersih-bersih yah, gak mungkin kan mami yang bersih-bersih lagi hamil begini.”

Kei mendengus pelan merasa aktifitasnya di ganggu, tapi dia tak berani menolak apalagi istrinya itu sedang hamil. Tapi dasar Chajeong tak tau diri, suaminya sedang bersih-bersih ia malah duduk santai mengganti chanel buat nonton drama kesukaannya.

“Yang bersih yah beresinnya. Piring di dapur sama baju kotor kita juga belum di cuci, sekalian yah pi.” Kei menghentikan sebentar kegiatan lap-lapnya, ia menatap Chajeong kesal. “Iya, bawel.”

Kei menghempaskan tubuhnya di sofa samping Chajeong. Tubuhnya sangat lelah mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga SENDIRIAN. Ia memejamkan matanya sebentar untuk beristirahat. Chajeong menatap suaminya tersenyum. “Sudah selesai beres-beresnya?”

“Sudah selesai semua.” Jawabnya acuh, masih tetap memejamkan mata. Sekilas ia merasa bibirnya di kecup, otomatis matanya terbuka. Dilihatnya Chajeong sedang menyengir. “Hadiah buat papi. Mianhae, tadi mami cuma ngerjain papi. Mami gak pusing kok.”

“Neo… Aisshhh. Jinjja!” Chajeong malah makin terbahak-bahak melihat suaminya yang kesal. Kei membuang mukanya kesal, ia merasa dibodohi oleh istrinya itu. Chajeong menghentikan tawanya, ia mengalungkan tangannya di leher Kei dan mendekatkan wajah mereka.

“Saranghae.” Ujarnya singkat dan mengecup lembut bibir Kei.

“Hamil bikin mami jadi Pervert sekarang.”

“MWO?!”

=====KeiCha=====

Kebohongan sampai kapan bisa ditutup-tutupi. Kei dan Chajeong sama-sama sadar mereka saling menyembunyikan banyak hal. Sampai kapan mereka akan terus seperti ini. Pernikahan ini tak semestinya penuh kebohongan, apalagi akan ada bayi yang akan hadir di tengah mereka. Pada suatu titik, mereka ingin melepaskan semua beban pada pasangannya.

Malam itu menjadi malam kelabu. Mereka sama-sama terjaga tengah malam. Entah kenapa mata enggan menutup, kegundahan menyelimuti mereka sampai akhinya mereka mengobrol mengeluarkan segala keluh kesah.

“Tadi siang mami pergi belanja bareng eomma. Mami liat baju-baju bayi yang lucu, tapi mami gak bisa beli karena eomma tidak tau aku sedang hamil. Keluargaku tak setuju hubungan kita.” Jelas Chajeong saat Kei menanyakan keberadaannya tadi siang. Ia mentap langit-langit kamar mereka dengan sendu.

“Ah ya~ Orang tua kita pasti tidak akan setuju hubungan kita ini. Orang tuaku juga tak akan setuju. Sebenarnya papi akan di jodohkan oleh orang tua papi di Jepang, tapi papi tidak mau, maka dari itu papi pergi ke Korea dan sekolah disini.” ujar Kei. Sama seperti Chajeong, ia menatap langit-langit, pikirannya menerawang.

Chajeong menjentikkan jarinya di udara. “Mami bakal coba ambil perhatian ibu mertua. Mami bakal tunjukkan, mami ini lebih baik dari yeoja-yeoja yang akan di jodohkan ke papi. Setidaknya mami punya cinta papi yang tidak dimiliki oleh yeoja manapun selain aku dan ada baby juga.” Ujarnya percaya diri.

Kei merubah posisi berbaringnya mengadap Chajeong. “Ne, meraka tidak akan bisa merebut hati papi dari mami. Karena papi hanya milik mami dan baby. I LOVE U NOW, TOMORROW, AND FOREVER.”

Kei melumat bibir Chajeong lembut, mengekspresikan dirinya hanya milik Chajeong, tak ada seorangpun yang dapat mengambilnya dari sisi Chajeong, kecuali Tuhan. Ia sadar satu hal, ia tak akan bisa selalu di sisi Chajeong dan anaknya kelak dengan kondisnya yang seperti ini.

Refleks ia menyudahi ciuman itu, tubunya terasa dingin. Ketakutan melanda dirinya, bagaimana jika ia harus pergi? Bagaimana dengan Chajeong dan anaknya? Bagaimana nasib mereka kelak!

“Papi kenapa?”

Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya? Mungkin sudah saatnya istrinya itu tau tentang penyakitnya. Kei mengelus lembut pipi Chajeong.

“Mi. ada yang ingin papi katakan.” Kei menghirup napasnya dalam, sebenarnya ia belum siap mengatakan hal ini, apalagi saat istrinya sedang mengandung. Tapi ia harus mengatakannya, sebelum semuanya terlambat dan tak ada lagi waktunya untuk berbicara.

“Mami masih ingat kejadian kecelakaan dulu dan papi sering sekali pusing.” Chajeong meneguk ludahnya, jantungnya berdebar kencang. Apa Kei akan mengatakan hal itu?

“Itu bukan efek operasi, tapi…” Kei menarik napasnya membuat Chajeong tercekat. “Huft. Sebenarnya aku mengidap kangker otak.” Deg. Jantung Chajeong terasa diperas. Ia tau, tapi ia menunggu Kei yang mengatakannya sendiri. Dan sekarang entah kenapa, ia merasa sakit di ingatkan kembali fakta yang berulang kali ingin di elaknya.

“Mami ingat kan papi sering pergi diam-diam tanpa kabar. Itu karena aku harus menjalani terapi. Mianhae.” Kei menatap Chajeong lekat. Chajeong buru-buru mengapus butiran bening yang akan mengalir di pipinya. Ia harus kuat, ia tak boleh lemah di hadapan Kei.

“Sudah sejauh apa penyakit papi?” Kei tergagap, ia tak tau Chajeong akan menanyakan hal ini terlebih dahulu, ia pikir istrinya itu akan marah dan mengamuk karena dirinya menyembunyikan hal ini sedemikian lama.

“Errr. Standium 3.” Chajeong membelalakkan matanya, ia tak tau separah itu.

“Tapi kan papi pernah di operasi. Apa operasi itu tidak bisa mengambil sel-sel kangkernya?”

“Molla. Aku juga tidak tau kenapa bisa seperti ini. Papi ikut terapi untuk mencegah perkembangan sel kangkernya saja.”

Chajeong bertanya hati-hati. “Apa keluarga papi tau kondisi papi yang sekarang?”

Kei menggelengkan kepalanya. “Cuma mami yang tau. Papi tidak mau mereka tau. Orang tua aku sibuk kerja, mereka tidak akan ada waktu untuk mengurus hal seperti ini.” Kei tersenyum menatap istrinya. “Mami tenang aja. Papi pasti bakal berjuang untuk melawan penyakit ini.”

Chajeong memeluk tubuh Kei erat. “Ne! Papi harus berjuang melawan penyakit ini, tidak boleh menyerah. Mami dan baby akan selalu mendukung papi. Papi pasti sembuh!”

Kei mengecup pucuk kepala Chajeong. “Iya, papi pasti sembuh. Gomawo.”

“Tapi papi juga harus menceritakan kondisi papi yang sebenarnya ke keluarga papi. Mereka berhak tau, mereka pasti akan sedih jika tidak mengetahui keadaan anaknya. Biar bagaimanapun mereka orang tua papi, semua orang tua pasti menyayangi anaknya. Seperti kita menyayangi baby.”

=====KeiCha=====

Bukit belakang sekolah masih tetap sama, menyuguhkan aroma pinus yang menyegarkan. Chajeong kembali berjalan sendiri di tengah rimbunan pohon pinus. Ia memegangi perutnya yang sudah tampak membesar. Ini bulan kelimanya tapi ia kembali sendiri.

Ditatapnya sendu ukiran ‘Kei love Cha, Will Never End’ di salah satu pohon pinus yang besar. Kini ukiran itu tampak memburam, sama seperti hatinya yang kian gundah. Kei menghilang lagi.

Tak ada kabar dari Kei sejak satu bulan terakhir. Kei memutuskan kembali ke Jepang, mengikuti kata Chajeong agar memberitahukan keluarganya tentang penyakitnya. Tapi sejak hari itu ia menghilang lagi. Chajeong tak tau harus bagaimana, kehamilannya harus menghentikan keinginannya ke Jepang mencari Kei.

Ia teringat percakapan mereka terakhir kalinya. “Jika papi tidak ada. Mami boleh menerima namja lain di kehidupan mami. Cobalah mengikuti kata orang tua, siapa tau mami bisa cocok dengan namja yang sudah dijodohkan ke mami.”

Chajeong membelalakkan matanya. “Papi rela mami menikah dengan orang lain?”

Kei memegang bahu istrinya, bukan ini kemauannya. “Sebenarnya papi gak rela. Tapi papi harus terima karena papi gak bisa selamanya di samping mami dan baby seperti sekarang ini. Jadi lebih baik mami mencari seseorang untuk menggantikan posisi papi.”

Chajeong menggelengkan kepalanya keras, ia mulai terisak. “Gak papi. Mami gak mau! Katanya papi akan selamanya bersama mami.”

“U should to know that for me KeiCha will never end.” Ujar Kei tersenyum.

Chajeong makin putus asa. “Aku akan mati jika papi seperti ini.”

Kei sangat terkejut mendengar gertakan istrinya. “Papi gak mau mami kenapa-kenapa karena papi sangat mencintai mami. Jadi jebal jangan lakukan itu.”

“Kalau begitu jangan menyuruhku menikah dengan orang lain!” sentak Chajeong.

Kei menundukkan kepalanya menenangkan dirinya sejenak. Ia mengangkat kepalanya lagi mencoba mengambil keputusan. “Arra. Aku juga gak mau seperti itu. Jadi kita usahakan KeiCha will never end.”

Chajeong mengangkat tangan Kei ke atas kepalanya. “Berjanjilah padaku. Pertama, Kei tidak akan meninggalkan Chajeong, jika kamu meninggalkanku maka aku mati. Kedua, Kei tidak akan menyakiti Chajeong, jika kamu menyakitiku maka aku mati. Ketiga, jika Chajeong harus menikah dengan orang lain maka tak ada lagi Chajeong di dunia ini.”

“Ne. KeiCha akan selalu bersama. Kei tidak akan menyakiti Cha. Jika Cha menikah dengan orang lain, maka Kei juga tak akan ada.”

Mengucapkan sebuah janji sangatlah mudah. Tapi bagaimana jika janji itu tak dapat di tepati. Keadaan harus memisahkan mereka, mempermainakan hati yang sedang gundah. Haruskah Chajeong mengakhiri kehidupannya sampai disini?

=====TBC=====

Cerita part ini kebanyakan murni dari isi sms aku dan Kei.. Hari ini uri papi Kei ultah.. Jadi inget dulu pas aku ultah dia hubungin aku pasca operasi, katanya aku orang pertama yang dia hubungin cuma karena ultah aku.. Gomawo, udah pernah jadi bagian hidup aku.. ^^

Kayaknya finalnya di part 10.. udah lama juga yah aku bikin FF ini.. Gak semua hal bisa aku ceritakan disini, nanti jadi sinetron, makin lama aku buatnya makin hilang feel-nya.. Semoga dengan cerita ini, kisah KeiCha menjadi abadi.. 😀

Yang uda baca commentnya..

Advertisements
Categories: Chaptered, Fanfiction, KeiCha, Romance | Tags: , | 7 Comments

Post navigation

7 thoughts on “FF KeiCha ‘Will Never End’ {Part 9}

  1. aaaah.. T-T
    iya iya iya ! semoga kisah nya jadi abadi…
    😦

  2. Kei.ny ngilang lgi,,
    part 10 end,ya eonn?
    huuhuu T^T

  3. Ryuberry ^^

    Papi kei itu orgny gmn mi? mksud nana d real life ny ^^

  4. dila

    aku baru baca nih ff…
    kok kyk forbidden love yah..
    tp ga pa2..
    aku suka..
    daebakkkkk 😀

  5. TheGirlFromNowhere

    mih , nih ff gak lanjut? nana udah setahun nungguin . haha XD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: