FF KeiCha ‘Will Never End’ {Part 8}

Author : Ratri Ismaniah aka Shin Chajeong

Genre : Romance

Rating : PG15

Cast : Shin Chajeong

Suzuki Kei

FF ini di ambil dari Perjalanan kisah cinta Kei-Chajeong Couple dari Sekolah Suju.. Chajeong itu aku sendiri, pendiri Sekolah Suju & Professor juga.. Aku punya couple Kei, salah satu murid disana.. Ini kisah kami.. FF ini aq persembahin untuk mengenang Almarhum Kei..

Warning: Biarpun di ambil dari kisah nyata.. Tapi ini fanfiction, jadi tetap ada fiksinya.. Posternya itu Jiro & Cyndi “Momo Love”, bukan foto kami.. XD

Yang belum liat Part sebelumnya klik disini.. Part 1 .. Part 2 .. Part 3 .. Part 4 .. Part 5 .. Part 6 .. Part 7 ..

=====KeiCha=====

Tumpukkan kertas soal-soal ulangan sedang diperiksa Chajeong. Yah, beginilah kegiatannya, jika tidak mengajar pasti mencari bahan untuk mengajar atau memeriksa ulangan siswa. Ia membetulkan lagi letak kacamatanya sebelum menorehkan tinta merah diatas tumpukan kertas itu.

Seorang gadis berambut pirang yang di kuncir samping memasuki ruangannya dan duduk di depannya. Tubuhnya di condongkan kearah Chajeong, “Prof. yakin mau kenalan sama oppa-nya Min?”

Chajeong melepas kacamatanya dan menatap gadis bule di depannya. “Molla.” Jawabnya singkat.

“Biar aku cari tau dulu oppa-nya itu seperti apa. Klo cocok buat Prof. baru kenalan.” Katanya menawarkan diri menjadi Mak Comblang. Chajeong tampak sedikit berpikir, “Ya udah, cari tau aja dulu tentang dia.”

“Sippp.” Ujarnya antusias. Ia akan bangkit dari tempat duduknya, tapi masih ada ganjalan di hatinya, di tatapnya lagi wajah Professornya. “Prof. beneran mau cerai dengan Kei oppa? Apa Prof. yakin Kei oppa tidak mencintai Prof lagi?”

Chajeong tiba-tiba berwajah sendu lagi. Gadis itu langsung membungkukkan dirinya, “Jeosonghamnida, Prof. Saya permisi dulu.”

Chajeong termenung memikirkan lagi kata-kata Kanissa, gadis pirang yang ia temui di acara perjodohan kemarin. Apa benar Kei tak mencintainya? Apa benar yang Kei cintai itu Tha? Ia bingung, tak tau kebenarannya. Hubungannya dengan Kei juga menjadi dingin sejak pertengkaran terakhir mereka.

=====KeiCha=====

Chajeong menutup kepalanya dengan tudung jaket, kacamata hitam yang di kenakanya hampir menutupi setengah dari wajahnya. Ia mengambil tas selempang kecil dan berjalan keluar apartemen. Untung suaminya sedang tak ada di rumah, jadi ia bebas keluar.

Memikirkan itu membuat hatinya sedih kembali, Kei sudah tak mempedulikan lagi keberadaannya. Tak menganggap dirinya ada, walaupun mereka tinggal serumah. Rumah itu tak lagi hangat bagi dirinya, hampa. Keputusan bercerai sudah bulat dibenaknya.

Cuaca sedang panas-panasnya, tapi terik matahari tak sedikitpun mengusik dirinya. Sepanjang perjalanan ia hanya termenung, tak tau apa yang ada dipikirannya. Sudah seperti mati rasa, bahkan ia sendiri merasa otak yang menggerakkan seluruh tubuhnya bukan miliknya lagi.

Hati seseorang bisa hampa, tapi organ tubuh tak akan berhenti beraktifitas. Atas kendali otaknya, ia merasa harus pergi ke tempat ini. Dimasukinya sebuah café kecil, bajunya ia keratkan agar tak ada seseorangpun yang mengenal dirinya. Dengan tenang ia berjalan dan duduk di salah satu sofa.

“Apa Chajeong eonnie mau bertemu dengan oppaku?” tanya seorang gadis di meja sebelah yang duduk membelakanginya. Chajeong menajamkan kupingnya, mencuri dengar pembicaran dua orang di belakangnya.

“Hmmm. Boleh aku tau oppa-mu itu seperti apa?” Chajeong sangat yakin yang sedang bertanya itu muridnya, Kanissa.

“Kau siapanya? Apa Chajeong eonnie datang bersamamu?” Chajeong sedikit membenarkan letak tudung kepalanya dan sedikit merunduk, agar dirinya tak di ketahui.

Gadis yang sedang berbincang dengan Kanissa itu adalah Min, fansnya yang ia temui saat acara biro jodoh beberapa waktu lalu. Ia ngotot ingin menjodohkan dirinya dengan oppa-nya. Karena itu ia meminta bantuan Kanissa untuk mencari tau namja itu.

“Hmmm.. A.. Aku dongsaengnya. Eonnie sangat sibuk, jadi tidak bisa datang. Aku menggantikan eonnie disini. Sebelum eonnie bertemu dengan oppamu, aku harus tau dulu oppamu seperti apa.” Chajeong mengerutkan dahinya, ini seperti acara para dongsaeng yang sedang menjodohkan kakak-kakaknya.

“Namanya Park Jung Soo, umurnya 29 tahun. Dia itu sangat baik, sudah punya rumah pribadi, kehidupan Chajeong onnie pasti tidak akan kekurangan. Mereka akan jadi pasangan yang serasi. Aku ingin sekali Jung Soo oppa mempunyai istri seperti Chajeong eonnie.”

Deg. Deg. Deg. Jantung Chajeong berdetak lebih cepat, napasnya mulai tercekat. Pembicaraan dua orang itu kian memanas. Eothokhae? Rasa gelisah langsung melanda dirinya. Menikah?! Ige mwoya?! Dia sudah menikah dengan Kei *errr* walaupun sebentar lagi mereka akan bercerai, tapi ia tak pernah berpikir akan menikah dengan namja lain.

“Boleh aku minta fotonya?” kata-kata Kanissa menyadarkan Chajeong kembali, ia sedang dalam pengintaian.

“Baiklah, nanti aku sampaikan ke eonnie. Aku harus minta persetujuannya dulu. Jika ia setuju, aku akan menghubungimu lagi untuk mengatur pertemuan.” Sepertinya Kanissa sudah mendapatkan foto orang itu. Chajeong tak berminat lagi pembicaraan mereka selanjutnya yang hanya sekedar berbasa-basi. Ia menundukkan sedikit kepalanya saat Min melewatinya.

Sebuah foto terlempar di mejanya, “Prof! Kau sudah mendengar sendiri kan pembicaraan kami tadi.” Chajeong mengangkat kepalanya, seringai tipisnya muncul saat Kanissa sudah berdiri tepat di hadapannya.

“Panggil aja eonnie, ini diluar sekolah, lagipula kau kan Dongsaeng aku.” Ujarnya sambil melepaskan jaket dan kacamata hitamnya.

Gadis itu langsung duduk di hadapan Chajeong. “Eonnie, Min itu serius baget ingin jodohin eonnie dengan oppanya, si Park Jung.. Jung..”

“Jung Soo.” Selanya.

“Ah, ne. Park Jung Soo. Apa eonnie mau menikah dengannya? Dari fotonya dan umurnya dia itu seperti ahjussi, tidak cocok sama eonnie. Masih lebih baik Kei oppa.” Jelas Kanissa panjang lebar, dengan hati-hati ia melanjutkan lagi ucapannya. “Apa eonnie serius mau bercerai dengan Kei oppa?”

“Siapa yang akan bercerai?” tanya seorang namja yang tiba-tiba saja sudah ada di samping meja mereka. Chajeong tercekat melihatnya.

“Hyuk Jae-ssi..” ujarnya terkejut.

=====KeiCha=====

Chajeong melipat tangannya di dada, bibirnya mengkerucut, beberapa kali ia mendengus kesal. Belum juga masalahnya selesai, sekarang ia harus bertemu dengan orang yang paling ia tak mau temui.

“Jadi kau mau bercerai dengannya?” tanya Hyuk Jae tajam. Ia sudah mendengar masalahnya dari Kanissa, gadis itu sudah pergi meninggalkan mereka berdua, sepertinya ia paham ada masalah yang harus di selesaikan antara dua orang ini.

“Bukan urusanmu!” ketus Chajeong.

“Jika kau menyentuhnya sedikit saja, aku tak akan segan membunuhmu.” Dengan nada mengejek Hyuk Jae menirukan perkataan Chajeong terhadapnya. “Cih. Kau bisa berkata begitu terhadapku tapi menyerah pada seorang yeoja yang bukan siapa-siapanya? Pabo!”

Mata Chajeong melebar. “Kau tidak tau apa-apa!” bentaknya.

“Harusnya kau gunakan juga energy berlebihanmu itu untuk mempertahankannya dari yeoja itu.” Chajeong menggeram mendengar perkataan Hyuk Jae.

“Apa kau benar-benar rela dia bersama yeoja lain?” lanjut namja itu lagi.

=====KeiCha=====

Chajeong membanting tasnya kesal di atas kasur kemudian menghempaskan dirinya sendiri. Perkataan Hyuk Jae tadi masih terngiang-ngiang di benaknya. Rela?! Jelas dia tak akan rela melihat suaminya dengan yeoja lain, sakit sekali hatinya. Tapi apa yang harus diperbuatnya? Dia benar-benar bingung. Melepaskan atau mempertahankan?

Rumahnya masih terlihat sepi. Kei belum pulang juga, ada perasaan cemas melandanya. Apa yang dilakukan namja itu? pergi kemana? Kenapa dari pagi hingga menjelang malam seperti ini belum pulang tanpa kabar!

Ia mengambil Hp LG kesayangannya dari dalam tas. Di sentuhnya layar Hp itu sampai menemui kontak orang yang sedang bergumul di pikirannya itu. Tangannya terhenti tak menekan tombol call, hanya memandangnya saja. Ego menguasai dirinya. Untuk apa ia menelpon namja itu, sedangkan namja itu tak sedetikpun ingat dirinya.

Chajeong ingin membuang jauh pikirannya tentang Kei. Ia meletakkan Hpnya kasar. Mungkin dengan mandi pikirannya dapat kembali jernih. Saat sedang mengambil baju salin matanya tertahan sesaat pada sembulan benda coklat tipis di bawah tumpukan baju Kei. Diangkatnya sedikit tumpukan baju itu, ada sebuah amplop besar berwarna coklat disana.

“Seoul Hospital.” Di ejanya tulisan yang tertera pada sampulnya.

Rasa penasarannya membucah, ia membuka amplop itu. Ditariknya sebuah plastik transparan berwarna hitam putih yang sepertinya gambaran otak. Deg. Ini hasil CT Scan, ia tau itu tapi tak tau apa maksud dari pemeriksaan itu.

Ia teringat, dulu suaminya sering sekali mengeluh pusing dan mual, beberapa hari ini juga suaminya sering sekali meminum obat yang ia tak ketahui obat jenis apa itu, Kei hanya bilang obat penghilang rasa sakit.

Memorinya berputar lagi, belakangan ini Kei sering keluar tanpa berpamitan dengannya, apa diam-diam ke rumah sakit dan melakukan pemeriksaan CT Scan ini? Ketakutan muncul dalam dirinya.

Apa sakitnya masih sering kambuh? Apa ini efek pasca operasinya dulu. Bagaimana ia sebagai istrinya tak tau apa-apa. Chajeong dengan tergesa-gesa mencari obat yang sering diminum Kei. Semua laci di kamar mereka ia obar-abrik dan langsung berlari keluar setelah menemukan obatnya.

Chajeong dengan tergesa memasuki sebuah apotik tak jauh dari apartemen mereka. “Boleh aku tau ini obat apa?” tanyanya beradu dengan nafas. Ia tak peduli orang-orang melihatnya aneh, seorang yeoja berlari ke apotik masih memakai sandal rumah.

Seorang apoteker memperhatikan dengan seksama obat yang dibawa Chajeong. “Ini obat untuk penderita penyakit kangker, nona.” Tubuh Chajeong membeku, Kangker.  “Ada yang bisa saya bantu lagi?” tanyanya yang membuat Chajeong tersadar ia tak sedang bermimpi.

“A..Ani… Gamsahamnida.” Chajeong membungkukan sedikit badannya dengan lunglai dan berjalan keluar. Tulang-tulang terasa mau lepas, dirinya sudah seperti tak menginjak tanah. Kangker.

Benarkah? Benarkah suaminya mengidap kangker? Chajeong menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia tak ingin percaya sebelum hal ini diutarakan oleh Kei sendiri. Ia tak ingin percaya. Tak ingin. Tapi kenapa matanya kini telah basah.

=====KeiCha=====

Klik. Bunyi Pintu apartemen yang sangat ditunggu Chajeong telah tiba. Ia segera memeluk sosok yang baru tiba itu. Kei sangat terkejut dengan perubahan sikap istrinya yang tiba-tiba ini, padahal sudah beberapa hari ini mereka saling tak bicara dan tak ada kontak sedikitpun.

“Mami kenapa?” tanya Kei bingung, tapi Chajeong hanya diam memeluknya.

Kerinduan yang besar untuk memeluk tubuh itu melebihi akal sehatnya yang ingin melepaskan Chajeong. Ia memeluk balik istrinya. Dielusnya lembut rambut istrinya dan di kecupnya ringan. Aroma yang sangat ia rindukan.

“Siapa yang papi cintai?” tanya Chajeong lirih.

Seperti di sentakkan lagi kedunia nyata, Kei melepaskan pelukannya dan menatap Chajeong penuh tanya. “Kenapa mami tanya begitu?”

“Mami merasa jadi orang ketiga diantara Papi dan Tha. Setiap saat, tanpa sadar papi selalu membicarakan Tha. Begitu pula sebaliknya. Aku merasa sebenarnya jauh di lubuk hati kalian itu saling membutuhkan dan mencintai. Tapi karena mami jadi kalian tak bisa bersama.” Jelas Chajeong.

Akhirnya ia bisa melepaskan bebannya juga. Walaupun sakit, ia rela melepaskan Kei jika memang yang dicintai namja itu bukan dirinya.

Ia tak seperti Hyuk Jae yang akan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan cintanya. Tapi, jika ia yang Kei cintai maka ia akan mempertahankannya sekuat tenaga. Ia hanya butuh kepastian.

Kei merasa tersinggung dengan ucapan istrinya. “Papi gak merasa menjadikan mami orang ketiga. Tha hanya papi anggap sebagai adik. Kami memang dekat, tapi kami sama-sama punya orang yang kami cintai. Dan orang yang papi cintai itu cuma mami.”

Chajeong kembali memeluk Kei. Hanya kata itu yang ia butuhkan. “Mianhae. Mami udah cemburu dan diemin papi beberapa hari ini.”

“Sudahlah. Asal jangan diulangi lagi.” Balas Kei.

Chajeong menggangukkan kepalanya dalam pelukan Kei. “Euuummm. Bogoshipheo.”

Kei menghembuskan nafasnya. Hanya satu katanya saja sudah membuat dirinya tak berdaya. Melepaskan semua emosi yang tadi ada di dirinya, masalahnya. Rasa sakit karena aksi diam mereka berbalik menjadi rasa rindu yang membuncah.

Bagaimana mungkin ia sempat berpikir untuk melepaskannya. Chajeong sudah seperti candu dalam hidupnya. Ia membutuhkannya sebesar oksigen yang harus ia hirup dalam hidupnya. Tidak. Ia tak bisa lagi melepaskannya.

Kei mengeratkan pelukannya, “Nado bogosipheo.”

Kei mulai kebiasaannya lagi, mengecup kening Chajeong, kedua kelopak matanya, turun ke hidungnya, berpindah ke sisi kanan dan kiri pipinya, terakhir ia mengecup lembut bibir istrinya. Melumatnya perlahan, setiap detiknya meluapkan rindu yang mendalam.

Chajeong melepaskan tautan bibir mereka, ia menghirup napas banyak-banyak. Senyumnya mengembang, ini suaminya yang ia kenal. Tangannya menyentuh pipi Kei, matanya menatap nanar bekas luka besar di kepala Kei. Di sentuhnya perlahan, takut menyakiti Kei.

“Apa papi masih menginginkan anak dariku?” tanya Chajeong tiba-tiba. Tak tau dari mana, pikiran itu terlintas begitu saja dibenaknya.

Bola mata Kei memutar, ia tak pernah paham jalan pikiran istrinya. Malam ini teralalu banyak kejutan yang dibuat Chajeong. Perubahan sikapnya yang drastis, dan sekarang membahas anak, topic yang paling dihindari Chajeong.

“Yah papi ingin punya baby namja. Aku menantikan saat-saat ada seseorang yang memanggil kita dengan sebutan mami papi sesungguhnya.” Kata Kei menerawang.

“Bagaimana jika aku menginginkannya juga?” entah keberanian darimana Chajeong dapat menyatakan itu.

Kei membelalakkan matanya. “Ya! mami serius? Ta.. Tapikan papi masih sekolah dan kita belum menikah secara resmi.”

Chajeong menggelengkan kepalanya. “Tak masalah. Asalkan papi tahan aja jika mami ngidam yang aneh-aneh, papi harus turutin semua kemauan mami. Papi juga yang beres-beres ru…”

Perkataan Chajeong terpotong oleh lumatan bibir Kei. Chajeong yang sudah mulai terbuai ciuman itu mengalungkan tangannya di leher Kei. Mereka beranjak ke kamar dengan tak melepaskan kontak tubuh mereka.

Chajeong sudah membuang jauh pikirannya tentang biro jodoh konyol yang dilakukannya. Kecaman dari orangtuanya. Perjodohannya dengan Lee Hyuk Jae beserta ancamannya. Ia tak peduli. Ia dapat melepaskan semua yang ia miliki, tapi ia tak bisa kehilangan Kei.

=====TBC=====

Cut..

FF ini gak bakal dibikin NC.. hahaha..

Akhirnya tinggal sebentar lagi KeiCha menuju final.. Jujur aja pengen cepet-cepet selesain FF ini.. Fiuhhhh..

Masihkah ada feel-nya?? Like n comment please..

Gamsahamnida.. 😀

Advertisements
Categories: Chaptered, Fanfiction, KeiCha, Romance | Tags: , | 5 Comments

Post navigation

5 thoughts on “FF KeiCha ‘Will Never End’ {Part 8}

  1. seperti biasa,,
    ff eonni ttep seru!
    tpi mngkin lbih sru klo ad NC.ny XD

  2. Jisankey

    firasat bakal sad… 😦
    gapapa.. lanjut xD feelnya masih dapet ko ! xD

  3. Pingback: FF KeiCha ‘Will Never End’ {Part 9} « .:: ChaJeong Story ::.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: