FF KeiCha ‘Will Never End’ {Part 6}

Author : Ratri Ismaniah aka Shin Chajeong

Genre : Romance

Rating : PG15

Cast : Shin Chajeong

Suzuki Kei

Lee Hyuk Jae

Ini FF di ambil dari Perjalanan kisah cinta Kei-Chajeong Couple dari Sekolah Suju.. Chajeong itu aku sendiri, pendiri Sekolah Suju & Professor juga.. Aku punya couple Kei, salah satu murid disana.. Kami sempat menang award Couple Termesra.. Ini kisah kami.. FF ini aq persembahin buat KeiCha Couple..

Warning: Biarpun di ambil dari kisah nyata.. Tapi ini fanfiction, jadi tetep fiksi.. Posternya itu Jiro & Cyndi “Momo Love”, bukan foto kami.. XD

Yang belum liat Part sebelumnya klik disini.. Part 1 .. Part 2 .. Part 3 .. Part 4 .. Part 5 ..

=====KeiCha=====

Rumah tradisional itu tampak panas. Di sebuah ruangan Chajeong duduk bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya. Raut wajah tegang terpancar dari mereka.

Eomma Chajeong langsung melemparkan tumpukan foto di atas meja pemisah mereka. “Jelaskan maksud foto-foto itu?!” ujarnya sambil menunjuk foto-foto itu. “Apa benar kau pacaran dengan muridmu dan kalian tinggal bersama?” lanjutnya.

Yeoja itu kaget melihat foto-foto yang sama dikirimkan oleh si peneror, ternyata dikirimkan juga ke orangtuanya. Chajeong mencoba menenangkan dirinya dan mulai menjelaskan. “Aku tidak pacaran dengannya. Tapi kami sudah menikah.”

Appa Chajeong tak bereaksi tapi wajahnya berubah kaku dan tangannya mengepal. Eomma langsung menghela nafas panjang sambil membuang muka, tak pernah ia pikir putrinya akan berbuat hal sebodoh ini. Ia bangkit dan langsung memukuli tubuh putrinya itu.

“Siapa yang mendidikmu jadi seperti ini hah?! Kau ini bodoh. Dia itu muridmu?! Pernikahan apa itu?!” bentaknya dengan tetap memukuli Chajeong.

Chajeong mulai berkaca-kaca menghadapi amukan eommanya. “Aku cinta dia eomma.” Ibunya mulai mengguncangkan tubuhnya, “Cinta?! Mana ada guru yang mencintai muridnya?!”

“Siapa orang itu?” tanya Appa Chajeong dingin membuat pertengkaran ibu dan anak itu terhenti.

Chajeong mulai tergugup, ia sangat takut pada appanya. “Na.. namanya Suzuki Kei. Dia muridku. Kami saling mencintai, karena itu kami menikah.” Chajeong memundurkan tubuhnya dan berlutut di depan kedua orang tuanya. “Appa, Eomma maafkan aku tak bicara tentang pernikahan ini. Tapi tolong restui pernikahan kami.”

Eomma Chajeong hanya bisa mendengus kesal, sedangkan Appanya masih tetap dingin tanpa ekspresi. “Suzuki Kei? Apa dia orang Jepang?”

Chajeong mengangkat tubuhnya menatap ayahnya. Ia tergidik mendengar pertanyaan ayahnya. “Ne. Dia orang Jepang.”

Wajah Appa langsung memerah saat putrinya membenarkan orang Jepang. Seluruh darah seperti naik keatas kepalanya. Ia sebagai pemegang tradisi Korea, amat benci dengan orang Jepang yang pernah menjajah bangsa Korea. Sekarang malah putrinya sendiri yang menikah dengan orang Jepang.

Dengan geram ia menampar putrinya sendiri, emosi sudah menguasai dirinya. “Sampai aku mati, jangan harap kau mendapat restuku.” Ucapnya dingin dan tajam.

“Appa…” Chajeong meringis mendapat tamparan yang amat menyakitkan itu, dipegang pipinya yang mulai memerah. Bukan cuma pipinya yang terasa sakit, tapi juga hatinya. Biarpun ayahnya sangat galak tapi tak pernah memukulnya. Eomma sangat terkejut melihat kejadian itu, naluri ibunya memaksanya untuk memeluk putrinya. Biar bagaimanapun ia tetap tak tega melihat putrinya menderita seperti ini.

“Berpisahlah dengannya.” Chajeong mendelik mendengar ucapan Appanya. Hatinya kembali seperti teriris. “Pernikahanmu juga tak sah secara hukum, jadi gampang buat kalian berpisah. Aku sudah memilihkan calon suami yang tepat untukmu.”

Syok. Itu yang dirasakan Chajeong saat Appanya memanggil calon yang akan dijodohkan untuknya. Seorang namja tersenyum saat memasuki ruangan dan melihat Chajeong tapi dibalas dengan tatapan kebencian. Namja itu… Lee Hyuk Jae.

=====KeiCha=====

Hyuk Jae menyetir mobilnya dengan gusar, sesekali ia melirik yeoja disebelahnya yang diam seribu bahasa. Biasanya yeoja itu selalu tersenyum dan tertawa di dekatnya, kini bagai patung yang tak bernyawa. Matanya memandang kosong ke luar jendela tanpa berbicara sediktpun sejak dari rumah kedua orang tuanya. Kebisuan ini membuatnya tak tahan, ia mencoba mencairkan suasana, “Chajeong-ah, gwenchanayo?”

“Hyuk Jae-ssi, turunkan aku disini!” ujar Chajeong dingin tanpa memandang Hyuk Jae. Namja disampingnya itu sangat terkejut mendengar Chajeong memanggilnya formal, biasanya ia memanggilnya oppa. “Tapi ini masih jauh dari apartemenmu.”

Chajeong memutar kepalanya, menatap Hyuk Jae dengan pandangan penuh kebencian. “Turunkan aku disini, SEKARANG!!!” teriaknya histeris, membuat Hyuk Jae langsung meminggirkan mobilnya.

Pintu mobil dibuka dengan kasar, Chajeong keluar dan berjalan dengan tergesa-gesa menjauhi mobil itu. Hyuk Jae yang masih bingung dengan perubahan drastis sikap Chajeong langsung mengejar yeoja itu dan menarik tangannya.

“Kau marah karena perjodohan kita?” pertanyaan Hyuk Jae disambut dengan tatapan kebencian Chajeong. “Marah?” geramnya. “Harusnya kau lebih tau apa yang membuatku marah!” Lanjutnya lagi dengan mata yang sudah mulai memerah menahan amarah dan air mata.

Hyuk Jae memegang bahu Chajeong meminta penjelasan, “Ada apa?”

Tangan itu langsung ditepis dengan kasar, “Harusnya aku yang bertanya padamu?! Oppa kan yang selama ini menerorku? Mengirimkan foto dan sms-sms itu?!” Hyuk Jae seperti terpukul benda tajam tepat didadanya, ia tak mampu berkata apapun. Bagaimana yeoja itu tau?

“Jawab oppa! Katakan bukan oppa yang melakukannya?!” teriak Chajeong histeris sambil memukul-mukul tubuh Hyuk Jae yang masih terdiam, ia tak pedulikan lagi berapa banyak pasang mata yang memperhatikan mereka.

“Bukan oppa kan yang mengirimkan foto-foto itu ke rumah orang tuaku?” tanya Chajeong lagi lemah. Ia tau jawabannya, sangat tau. Tapi kenyataan itulah yang membuatnya terpuruk. Orang yang paling disayanginya seperti kakaknya sendiri kini menusuknya. Sakit. Teramat sakit mengetahui fakta ini beberapa jam yang lalu melalui mata-matanya yang ia suruh untuk menyelidiki siapa dibalik peneror dirinya.

Matanya yang memerah tak mampu lagi menahan butiran air mata. Ia mulai terisak, tak ada ketegaran lagi dalam dirinya. Hatinya hancur menghadapi masalah yang datang bertubi-tubi di hidupnya.

Hyuk Jae tak mampu berkata apapun, ia memeluk yeoja rapuh di depannya. Yeoja yang telah lama menjadi tambatan hatinya. Ia bekerja keras di negeri orang, di Jepang, untuk membawa Chajeong ke negera idamannya itu. Kemarahan meledak dalam dirinya saat mengetahui yeoja-nya telah menikah, harusnya ia yang menikah dengan Chajeong. Ia tak peduli dengan cara apapun akan ia gunakan untuk mendapatkan kembali yeoja-nya. Chajeong hanya milik dirinya.

“Tinggalkan dia.” Ujar Hyuk Jae tegas membuat Chajeong terkejut dan melepaskan pelukannya. “Waeyo, oppa?”

“Aku bisa lebih membahagiakan dirimu. Sarangheyo.” Mata Chajeong terbelalak, tak mau percaya dengan pendengarannya sendiri. Cinta? Apa karena alasan itu oppanya sanggup melakukan hal sekeji ini padanya, pikirnya.

“Bagaimana jika aku tak mau melepaskannya?” tanya Chajeong berspekulasi. Namja itu bukan oppa yang ia kenal selama ini, karena yang ia tau oppanya sangat baik hati selalu membuatnya senang. Tapi sekarang namja yang di depannya hanya pria dingin yang meninginkan dirinya bukan kebahagiannya.

Hyuk Jae mencondongkan sedikit tubuhnya dan membisikkan kata-kata tepat di telinga Chajeong, “Aku bisa melenyapkannya. Kau hanya milikku.” Ia menarik tubuhnya lagi dengan menyunggingkan senyum manis ke Chajeong yang menatapnya dingin.

“Jika kau menyentuhnya sedikit saja, aku tak akan segan membunuhmu Hyuk Jae-ssi.” Balas Chajeong dengan nada penuh ancaman. Hyuk Jae terpaku pada sosok yang kini telah berjalan meninggalkannya. Ia tak pernah menyangka yeoja lembut yang selalu dipujanya itu bisa mengancam dirinya, ada kebencian yang amat dalam dari tatapan matanya. Sungguh, ia tak pernah mengharapkan tatapan seperti itu, ia hanya ingin memiliki Chajeong, mendapatkan cintanya kembali bukan kebencian. Apa ini kesalahan?!

=====KeiCha=====

Seorang yeoja berkacamata jalan tergesa-gesa memasuki kedai – kedai kecil di pinggiran kota Seoul, ia mengikat rambut keritingnya sambil berkeliling mencari sosok yang menelponnya tadi. Langkahnya terhenti pada sebuah kedai, di salah satu mejanya duduk seseorang yang amat ia kenal. Matanya nanar menatap sosok itu, mejanya penuh dengan botol soju. Tak pernah ia melihat sahabatnya seperti ini. Penampilannya sangat kusut, melihatnya sekarang siapa yang menyangka yeoja itu adalah Profesor muda. Ia meraih botol soju yang akan ditegak yeoja dihadapannya.

“YA! apa yang kau lakukan disini, Chajeong-ah!” yeoja yang dipanggilnya mendongak malas kearahnya dan tersenyum miris. Sepertinya pengaruh alkohol sudah bereaksi. “O, Hwang Tira. Naui chinguya. Duduk sini.” ujarnya lebay sambil menepuk bangku disebelahnya.

“Ya. Ya. Apa yang kau lakukan.” Chajeong protes saat botol sojunya diambil kembali oleh Tira. “Oh, aku tau. Kau mau minum juga?” cengirnya sambil menunjuk-nunjuk sahabatnya itu. Alkohol sudah merubah peringainya.

“Apa yang terjadi?” tanya Tira dengan memandang prihatin ke sahabatnya.

Chajeong malah tertawa terbahak-bahak. “Apa yang terjadi? O~ apa yang terjadi denganmu dan Narra? Ck ck ck, diam-diam kau menyukai murid kita juga kan?” Tira terkejut mendengar pertanyaan, lebih tepatnya pernyataan yang dilontarkan Chajeong. Ia tak mengira chingu sekaligus rekan kerjanya itu mengetahui ia dan Narra berkencan. Seperti yang dikatakan tadi, Narra itu muridnya. Hubungan mereka walaupun belum berlanjut ke arah yang serius, tapi ia sadar benih-benih cinta itu telah muncul diantara mereka. Siapa yang bisa mencegah cinta?

“Ku beritahu satu hal, Narra itu namjachingu Ryeotha. Aisshhh, aku rasa kau sudah tau itu.” pernyataan itu menohok Tira. Ia tak sanggup mencegah Chajeong menegak soju lagi. Apa yang dikatakan sahabatnya itu benar. Bukan hanya masalah hubungan antara guru dan murid tetapi namja itu sudah mempunyai yeojachingu. Tapi ia mencintainya. Apa yang salah dengan cinta?

Chajeong yang setengah sadar menggoyang-goyangkan telunjuk dan kepalanya di depan Tira. “Kau tidak boleh menyukai muridmu.” Ia menunjuk dirinya sendiri, “Jangan seperti aku.” Isak tangisnya mulai terdengar, “Sakit. Mencintainya sangat sakit. Apa yang salah dengan mencintai seorang murid? Apa memang sebuah kesalahan? Apa aku harus meninggalkannya?” Chajeong menenggelamkan kepalanya dimeja sambil menangis sejadi-jadinya.

=====KeiCha=====

Chajeong membuka matanya dengan berat, kepalanya terasa sangat pusing dan badannya terasa sangat berat. Ia meringis pelan. “Sudah bangun?” suara dingin itu membuat kesadarannya terkumpul. Dilihat sekelingnya, ia sudah kembali ke apartemennya, sosok yang berbicara dingin itu Kei, suaminya.

“Minum dulu.” Ujar Kei masih tetap dingin sambil mengulurkan secangkir lemon tea. Chajeong meminumnya tanpa berkata sedikitpun. “Tadi malam kemana?” tanya Kei memulai introgasi.

“Aku hanya mencari angin.” Kei tampak sangat kesal, “Sampai mabuk? Itu yang namanya mencari angin?! Bagaimana jika terjadi sesuatu denganmu?! Kenapa handphone-mu dimatikan?! Kenapa menelpon Tira? Kenapa bukan menelpon aku?! Mami tau jam berapa mami pulang?”

Chajeong tercengang mendengar penuturan suaminya. Apa benar suaminya menghawatirkannya? Dibuang jauh pikirannya itu, yang ada dipikiran suaminya itu cuma ada Ryeotha Ryeotha dan Ryeotha, tak ada lagi tempat untuknya.

“Tak penting pulang jam berapa, papi juga tak akan menunggu mami kan?” ucap Chajeong sengit. Raut wajah Kei mulai memerah menahan marah, “Ne! aku tak menunggumu!” Kei berlalu dari hadapan Chajeong dengan perasaan kesal.

Tangan Chajeong mengambil Hp LG yang berada dalam tasnya. Hp itu ia hidupkan saat akan menelpon Tira tapi setelah itu ia silent agar tak ada yang dapat mengganggu dirinya. Ia tercengang melihat layar Hpnya, 23 panggilan tak terjawab, 12 sms, 5 voice mail, semuanya dari nama yang sama ‘Kei Jagiya’. Benarkah ini? Kei menunggunya? Menghawatirkannya? Matanya mulai berkaca-kaca.

Selimut disibakkan oleh Chajeong, ia berlari keluar kamar mencari sosok yang ia kecewakan tadi. Chajeong langsung memeluk dari belakang saat menemukan suaminya. Kei sangat terkejut tiba-tiba dipeluk. Punggungnya terasa basah, suara isak tangis terdengar lirih di telinganya. Seketika itu juga, amarahnya tadi menguap begitu saja. “Apa papi menghawatirkanku?”

Kei memutar tubuhnya menghadap Chajeong, ia bingung dengan pertanyaan istrinya. “Tentu saja papi khawatir sama mami.”

“Kenapa papi menghawatirkan mami?” tanyanya lagi. Kei mengusap kedua pipi Chajeong yang penuh air mata. “Mami orang yang paling berharga buat papi. Orang yang paling dekat dengan papi. Tentu saja papi menghawatirkan mami. Papi gak mau sesuatu yang buruk terjadi sama mami. Papi cemas banget tadi malam, apalagi mami pulang dalam keadaan mabuk.”

Perasaan Chajeong terasa membucah, suaminya masih menghawatirkannya. Berarti masih mencintainya. Bisakah ia percaya hanya ia yang Kei cintai? Chajeong memeluk Kei erat. “Mianhae. Jeongmal mianhae, mami buat papi cemas.”

Kei mengelus lembut rambut istrinya, “Mami jangan buat papi cemas lagi. Mami harus ingat, sekarang mami punya orang yang selalu perhatiin mami.” Chajeong mengganggukkan kepalanya mantap, ia merasa bersalah telah meragukan suaminya.

Tangan Kei membelenggu kedua sisi leher Chajeong. Bibirnya menyentuh kelopak mata Chajeong memastikan tak ada lagi air mata disana. Turun mengecup kedua pipi Chajeong, membuatnya kembali bersemu merah. Terakhir dikecupnya lembut bibir Chajeong, lama kelamaan ciuman itu menuntut, ingin menghukum atas semua rasa gundah yang ia rasakan semalam. Chajeong makin mempererat pelukannya, ciuman itu membawa semua perasaan gundahnya akan perasaan Kei yang sesungguhnya.

=====KeiCha=====

Pohon pinus di bukit belakang sekolah masih tetap hijau disetiap musimnya, memberikan kesejukan tersendiri. Tempat itu masih menjadi tempat favorit Kei dan Chajeong menghabiskan waktu berdua, seperti saat ini, jam istirahat mereka gunakan hanya tidur-tiduran dibawah pohon bertuliskan ‘Kei Love Chajeong, Will Never End’.

“Tak terasa kita sudah satu tahun menikah.” Ujar Kei menerawang menatap gumpalan awan di langit yang biru. Waktu berputar begitu cepat, banyak hal yang dilalui dalam waktu 1 tahun ini. Entah sampai kapan ia dapat menemani Chajeong disini, jika Tuhan mengizinkan ia hanya ingin selalu bersama orang yang paling dicintainya ini.

“Satu tahun yah.” Chajeong juga menerawang, berat sekali pernikahannya selama 1 tahun ini. Jika ia bisa menghentikan waktu, ia ingin selalu seperti ini, bersama dengan Kei tanpa memikirkan berapa banyak orang yang menentang pernikahannya.

“Berarti tahun depan papi lulus.” Gumam Chajeong, ia baru menyadari sesuatu. Ia menoleh ke arah suaminya, “setelah papi lulus sekolah apa rencana papi?”

Kei balik menatap Chajeong. “Mollayo. Appa-ku pernah bicara, setelah lulus dia ingin papi meneruskan kuliah sekaligus bekerja di Jerman dan menetap disana.”

Chajeong kaget mendengar ucapan Kei, baru kali ini mereka berbicara tentang rencana masa depan. Tapi ia tak menyangka Kei akan pergi jauh, bagaimana dengan dirinya? Hubungan mereka?

Kei seakan tau gelisah istrinya, ia melanjutkan berkata, “Tapi papi belum menyetujuinya. Papi gak mau jauh dari mami. Lagipula papi maunya tinggal di Korea, papi sudah betah di negeri ini. Papi bisa mencari kerja disini dan menghidupi keluarga kita.”

Chajeong masih tetap terdiam memikirkan rencana ke Jerman. Tawaran kerja disana tentu menggiurkan, sepertinya Kei juga tertarik rencana itu, ia merasa dirinya menjadi penghambat karier Kei jika tak mengizinkan suaminya itu pergi kesana. Tapi jika Kei disana akan sangat sulit untuk hubungan mereka. Ia tak bisa meninggalkan pekerjaannya disini. Ini mimpinya, mendirikan sebuah sekolah dan mengajar, tak mungkin ia lepas.

“Mi..” panggil Kei lirih. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ragu mengatakannya.

“Eummm.” Jawab Chajeong singkat, masih memikirkan masalah Jerman.

Kei menatap Chajeong intens, “Teman-temanku bertanya kapan kita punya anak?”

Chajeong langsung bangkit terduduk karena kaget. “ANAK?!”

Kei ikut duduk bersender pada batang pohon, “Ne. Anak. Apa mami mau punya anak?” tanyanya santai. Wajah Chajeong langsung bersemu merah, ia tak pernah memikirkan hal ini sebelumnya, mempunyai anak? Bukankah terlalu cepat untuk mereka?

“Pi, kita kan masih muda. Papi masih sekolah, terlalu cepat jika kita punya anak sekarang.” Kata Chajeong dengan terbata-bata. Tiba-tiba Kei meletakkan tangannya dikedua sisi tubuh Chajeong, menghimpitnya di batang pohon pinus. Kei memandang matanya tajam, Chajeong tak bisa mengendalikan degup jantungnya jika melihat Kei dalam jarak kurang dari 5 cm ini.

“Jika papi menginginkan anak namja dari mami gimana?” tanyanya serius. Jantung Chajeong seperti mencelos. Anak! Berarti mereka harus melakukan hubungan ‘itu’. Biarpun mereka telah menikah satu tahun dan tinggal serumah, tapi belum pernah melakukan hubungan ‘itu’. Mereka hanya sebatas berciuman selama ini, ia sendiri merasa belum siap jika harus melakukan ‘itu’. U Know lah maksud dari kata ‘itu’.

Secara reflex Chajeong mendorong Kei dan berdiri. Ia merapihkan pakaiannya dari sisa rerumputan. “Ayo kita kembali ke kelas. Istirahat sebentar lagi selesai.” Chajeong berjalan kembali ke sekolah, mengalihkan pembicaraan, ia masih bingung harus menjawab apa. Kei berjalan di belakang Chajeong dalam diam. Banyak pemikiran juga berkecamuk dibenaknya.

Saat mereka berjalan dilorong sekolah, tak sengaja mereka mendengar percakapan dua orang siswa, “Eh, Ryeotha dari kelas 2-KRY masuk sekolah lagi, padahal dia tidak ikut UKK kemarin.”

Mendengar hal tersebut Kei langsung berlari menuju kelas KRY untuk memastikan sendiri berita tersebut. Kei selalu sensitive mengenai Ryeotha. Itu yang membuat Chajeong merasa amat sakit. Jika ia merasakan keyakinan dengan perasaan Kei, yakin hanya ada dirinya di hati Kei, tak ada yang lain, ia merasa hambatan apapun mungkin bisa mereka lewati bersama. Tapi jika tak ada kepercayaan, apa yang bisa ia pertahankan dari hubungan mereka. Haruskah ia melepaskan Kei?

=====To Be Continue=====

Sekolah Suju udah di tutup terkubur bersama kenangan KeiCha.. Buat nulis FF saat ini sulit coz harus fokus skripsi dulu,sebisa mungkin aq coba lanjutin FF ini.. Walaupun mengingat lagi seseorang yang sudah meninggal itu berat..

Ini saat-saatnya KeiCha tengkar.. Kami juga pernah tengkar dan aq buka lapak biro jodoh bareng Kannisa Miladis.. Misi kami buat biro jodoh itu, ada di part selanjutnya.. Cekidot, tp gak tau kapan dirilis.. Hahaha..

Yang udah baca comment please.. Boleh disini, di FB, or di Twitter.. Gamsahamnida.. 😀

Advertisements
Categories: Chaptered, Fanfiction, KeiCha, Romance | Tags: , , | 6 Comments

Post navigation

6 thoughts on “FF KeiCha ‘Will Never End’ {Part 6}

  1. Pingback: .:: ChaJeong Story ::.

  2. sedih bgt crtany,,
    aku smpe nangis T,T
    berhrap KeiCha will never end :’)

    • Dunia tak seindah yang dipikir.. ^^
      KeiCha will never end dengan caranya sendiri.. Aq buat FF ini supaya masih ada memory yg tertinggal.. ^^

  3. Jisankey

    meninggal?
    kisah nyata yang…
    T~T

  4. Pingback: FF KeiCha ‘Will Never End’ {Part 9} « .:: ChaJeong Story ::.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: