FF KeiCha ‘Will Never End’ {Part 4}

Author : Ratri Ismaniah aka Shin Chajeong

Genre : Romance

Rating : PG15

Cast : Shin Chajeong

Suzuki Kei

 

Ini FF di ambil dari Perjalanan kisah cinta Kei-Chajeong Couple dari Sekolah Suju.. Chajeong itu aku sendiri, pendiri Sekolah Suju & Professor juga.. Aku punya couple Kei, salah satu murid disana.. Kami sempat menang award Couple Termesra.. Ini kisah kami.. FF ini aq persembahin buat KeiCha Couple..

 

 

Warning: Biarpun di ambil dari kisah nyata.. Tapi ini funfiction, jadi tetep fiksi.. Posternya itu Jiro & Cyndi “Momo Love”, bukan foto kami.. XD

Yang belum liat Part sebelumnya klik disini.. Part 1 .. Part 2 .. Part 3 ..

=====KeiCha=====

Kei menekan bel kamar hotelnya, disambut wajah lesu istrinya. “Kenapa papi tinggalin aku?” Kei langsung berlutut meminta maaf, “Mianhae, mami boleh marah atau bentak papi. Aku gak akan ulangin lagi.”

Chajeong menarik Kei berdiri, “Jangan berlutut. Emangnya papi darimana? Aku bukan marah, tapi cemas takut papi kenapa-napa. Bingung harus cari kemana, gak bisa bahasa Jepang.”

Kei menarik Chajeong kepelukannya, “Jeongmal mianhae. Aku gak akan tinggalin mami lagi.”

“Papi, aku lapar.” Ujar Chajeong datar. Kei melepas pelukannya, “Mami belum makan?”

“Ya! salah siapa suruh aku nunggu berjam-jam! Dari siang aku belum makan.” Sentak Chajeong membuat raut wajah Kei tambah bersalah.

“Mami mau makan apa? Kita makan di luar aja.” Bujuknya.

“Aku mau Teriyaki.” Ucap Chajeong semangat, tapi Kei mengerutkan alisnya, “Papi gak suka Teriyaki. Mami aja yang makan yah.”

Chajeong langsung cemberut, “Shireo. Masa papi gak makan. Kita beli makanan diluar, nanti papi beli yang lain. Makannya di hotel aja, kita bikin Candle light dinner.” Ujarnya seraya mengedipkan mata ke Kei.

Akhirnya mereka pergi berbelanja makanan diluar hotel sambil menikmati indahnya malam kota Tokyo. Saat kembali ke hotel, Chajeong merasa ada yang terlupa, “Papi gak beli bunga buat aku?”

Kei menatapnya bingung, “Bunga? Buat apa?” Chajeong mendelikkan matanya. Kei langsung sadar, “Ah, ya~ bunga. Mianhae, aku bukan pria yang romantis. Sebentar, papi beli dulu.”

Chajeong menahannya, “Papi gak akan pergi lama lagi kan?”

“Kali ini gak akan lama.” Kei langsung melesat meninggalkan hotel. Chajeong menatap kepergiannya cemas, ia takut jika Kei akan pergi lama lagi. Tapi ketakutannya tak terbukti, Kei kembali dengan seikat mawar merah. Bunga kesukaannya. Sepertinya Kei berlari untuk mencari bunga ini, ia mengatur napasnya sebelum menyerahkan bunga.

“Cuma sebentar kan? Ini bunganya.” Chajeong menerima bunga itu dan langsung memeluk Kei. “Saranghae, naui nampyeon.” Bisiknya.

“Nado saranghae.” Jawab Kei.

Mereka saling menatap, perlahan Kei mengecup kening Chajeong, kemudian kedua matanya membuat chajeong terpejam menikmati sensasi yang sulit di ungkapkan. Ciumannya turun menelusuri hidung Chajeong, pipinya, dan berakhir di bibirnya. Menyalurkan cinta yang mereka rasa, ciuman yang lembut dengan latar cahaya lilin yang menggoda. Malam itu mereka melakukan candle light dinner sederhana di dalam kamar hotelnya. Saat selesai makan, tiba-tiba tubuh Chajeong limbung.

“Mami kenapa?” tanya Kei cemas sambil membantu menopang tubuh istrinya.

“Gwenchana, cuma pusing sedikit. Aku bereskan meja dulu.” Ujar Chajeong yang memaksakan diri mau membereskan sisa makan malam mereka.

“Nanti aja bereskannya. Mami istirahat dulu.” Kei langsung menggendong Chajeong dan menjatuhkannya di kasur.

“YA, Papi! Appo. Masa istri sendiri di lempar.” Ujar Chajeong cemberut. Ia membetulkan posisi tidurnya.

“Emangnya mau gimana?” goda Kei sambil mendekati istrinya.

“Ya.. Ya.. Papi mau apa?” tanya Chajeong gugup. Jantungnya berdetak lebih cepat.

“Hmmm. Mau apa yah?” Kei makin mendekati Chajeong dan menunjukkan senyum evilnya. Tapi tiba-tiba Chajeong bersin di depan mukanya.

“Mianhae papi, kayaknya aku masuk angin. Dingin banget pas nunggu papi berjam-jam.” cengir Chajeong. Kei mendengus dan  menghempaskan diri di samping Chajeong, “Mami tidur aja.”

Chajeong berusaha tidur, tapi biarpun ia menutup matanya tetap tak bisa tertidur. Hatinya masih dilanda perasaan cemas, “Papi. Aku gak bisa tidur.” Kei membuka matanya dan berbaring miring menghadap istrinya, “Wae?”

“Klo aku pejamin mata, aku takut papi pergi tanpa aku ketahui dan saat aku buka mata papi sudah menghilang lagi.” Kata Chajeong sambil menatap langit-langit kamar. Kei langsung memeluknya dari samping, “Mami tidur aja. papi gak akan pergi, papi bakal temani mami terus.”

Mendengar ucapan suaminya membuat perasaan Chajeong sedikit tenang dan bisa tertidur dengan nyenyak. Tapi esok harinya Chajeong jatuh sakit dan memaksa mereka mengakhiri Honeymoon super singkat itu. 1 hari yang panjang, ada tawa, tangis, sedih, bahagia, semua bercampur jadi satu. Meramu kisah singkat ini menjadi bermakna, Chajeong dengan kesetiannya menunggu hingga sakit dan Kei yang walaupun sedang sakit tapi masih berusaha membahagiakan istrinya.

=====KeiCha=====

Yeoja itu menatap pantulan dirinya di cermin, memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri, memastikan penampilannya telah sempurna. Name tag yang bertuliskan Prof. Chajeong dipasangkan pada jas birunya. Ia menatap pantulan bayangan orang di belakangnya yang meringkuk ditempat tidur. Bibirnya mengerucut, dilirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Sebentar lagi ia bisa telat, tapi masih harus mengurus mahkluk yang masih tertidur pulas.

Chajeong berjalan menuju tempat tidur dan duduk di sisinya. Tangannya mulai mengoyang-goyangkan tubuh namja yang tertidur itu, “Papi, ireona. Ppali. Nanti telat sekolah.”

Kei menggeliat sedikit dan mengerjapkan matanya. “Mami udah bangun?” gumamnya setengah sadar. Chajeong mendengus pelan, “Mami udah bangun dari tadi papiku sayang. Mana morning kiss-nya?” Kei tersenyum, ia menarik kepala istrinya dan mengecup keningnya pelan.

“Masa cuma begitu. Harusnya kayak gini pi…” Chajeong mengecup bibir Kei cepat dan langsung berdiri berusaha menutupi wajahnya yang mulai merona. “Papi cepat siap-siap nanti telat. Seragam dan sarapannya udah mami siapin. Mami berangkat duluan yah.”

“Loh, kenapa kita gak berangkat bareng aja?” tanya Kei heran.

“Mami ada jam ngajar pagi. Mau persiapan materi dulu. Mami berangkat pi.” Chajeong tak menghiraukan lagi jawaban suaminya, ia mengambil tas dan keluar dari kamar mereka. Tapi sesaat kemudian kepalanya menyembul dari balik pintu, “Papi jangan telat, apalagi bolos pelajaran aku. Awas aja.” Ancamnya dengan menunjukkan kepalan tangan.

=====KeiCha=====

Pelajaran pertama yang diajarkan Chajeong berlangsung lancar, tapi tetap saja ada yang saling mengobrol, bengong, dan sibuk urusan sendiri.

“Sampai disini, apa kalian sudah mengerti semua?” tanya Chajeong pada murid-muridnya dan serempak menjawab mengerti. Tapi dilihatnya Kei sama sekali tak menggubris ucapannya, malah asik mendengarkan MP3 selama jam pelajaran berlangsung. Ia berjalan mendekati Kei dan langsung menarik headset dari telinga Kei.

“Ada apa mami?” tanya Kei kaget, tak sadar mereka sedang di kelas. Otomatis seluruh kelas langsung riuh menggoda pasangan tak lazim itu.

“Pi, ini di Sekolah.” Desis Chajeong pelan. Bibir Kei melafalkan kata maaf dengan tak bersuara. Suasana kelas sudah tak terkendali lagi sehingga Chajeong segera mengakhiri pelajaran hari itu dengan menahan malu. Sepanjang koridor ia meracau tak jelas merutuki sikap suami yang membuatnya malu di depan semua muridnya. Tapi terkadang ia tersenyum sendiri mengingat kejadian tadi, akhirnya dia bisa merasakan kembali kehadiran Kei di Sekolah ini.

“Kayaknya lagi ada yang senang banget sampai senyum-senyum sendiri.” Chajeong tersentak saat ada yang berbicara padanya. Ia membalikkan tubuhnya, senyumnya makin mengembang melihat orang yang menyapanya itu. Seorang yeoja dengan jas biru yang sama seperti di kenakannya sedang melihatnya angkuh dengan tangan terlipat di dada, tubuhnya di senderkan ke dinding.

Sesaat yeoja itu membetulkan letak kacamatanya sebelum melanjutkan perkataannya. “Ya. Kau belum cerita padaku. Kalian ngapain aja selama honeymoon?” tanyanya penasaran. Chajeong malah mengeluarkan evilsmile-nya. “Hmmm. Ngapain aja yah? Aku dibeliin Handphone, belanja di Shibuya, candle light dinner. Hmmm, apa lagi yah?”

“Aishhh. Bikin envy.” Chajeong tertawa mendengar gerutu sahabatnya yang sekarang sudah menjadi Kepala Sekolah disini. “Chullie-ya. Makanya kau menikah aja jadi gak envy lagi.” ujarnya sambil mengedipkan mata menggoda Chullie yang masih menjomblo. Ia tak memperhatikan lagi celotehan sahabatnya karena ada sebuah sms aneh masuk ke Hp-nya. Beberapa saat ia hanya memandang aneh layar Hp-nya sambil berpikir siapa si pengirim sms.

“Ya. Kau tidak mendengarkanku! Sms dari siapa sih?” kesal Chullie karena diabaikan. Chajeong langsung menunjukkan layar Hp-nya ke Chullie.

“Kau milikku..” eja Chullie membaca barisan pendek di Hp Chajeong. “So sweet. Kei romantis banget.” Lanjutnya.

Chajeong menggelengkan kepalanya, “Bukan. Gaya tulisannya beda sama Kei. Lagipula dia masih di kelas, Hp-nya aku sita.”

“Lalu siapa?” Chajeong mengangkat bahunya, “Molla. Orang iseng kali.” jawabnya acuh.

“Wah, penggemar rahasiamu tuh. Chajeong Lovers.” Chajeong mendelikkan matanya mendengar ucapan Chullie. “Mwoya? Chajeong Lovers? Aneh banget.”

Chullie menopang dagunya berpikir, “Memangnya mau disebut apa para fansmu itu? Tapi Chajeong Lovers kayaknya kepanjangan, masih bagusan nama fans aku Tiramisu.” Mereka malah berdebat masalah nama fans, melupakan mencari tahu siapa si pengirim sms.

=====KeiCha=====

Berhari – hari kemudian masih suka ada sms tak di kenal masuk ke Hp Chajeong, tapi saat ia menelpon balik no. tersebut tak ada yang mengangkat teleponnya. Semakin lama sms itu bukan hanya sekedar pernyataan cinta, tapi ancaman untuknya berpisah dengan Kei. Chajeong tak terlalu ambil pusing masalah ini, ia juga tak menceritakan ke Kei karena menurutnya juga tak terlalu penting untuk di ceritakan. Lalu ia mengganti no. Hp-nya agar lepas dari teror, keputusan itu sangat tepat karena sudah tak ada lagi teror sms.

Pagi ini Chajeong telat bangun, jadi mereka berangkat ke Sekolah bareng. Mungkin akan telihat aneh saat melihat seorang guru di boncengi oleh muridnya, tapi Chajeong sudah tak peduli lagi pikiran orang lain daripada ia harus terlambat karena naik bis. Pelataran sekolah telah sepi, semua murid yang tinggal di asrama mungkin sudah pada masuk ke kelas.

“Aishhh. Pelajaran sudah mau mulai.” Dengan tergesa Chajeong turun dari motor dan melepas helmnya. Ia merapikan rambut dan jasnya, tapi tangannya ditarik Kei saat ia mau masuk ke gedung Sekolah. Tanpa aba-aba Kei langsung mencium bibirnya cepat membuat Chajeong diam di tempat.

“Tadi itu morning kiss.” Kata Kei yang langsung berlari masuk ke dalam gedung Sekolah sebelum Chajeong memarahinya. Wajah Chajeong mulai memanas, ia memegangi kedua pipinya dan berusaha bersikap rileks setelah suaminya yang nakal hampir membuat jantungnya berhenti berdetak. Tanpa mereka sadari di luar sana ada seseorang yang memotret setiap moment itu.

“Papi~” sapa Yunhi saat Kei masuk ke dalam kelasnya membuat ia tercengang. Papi? Sejak kapan teman sekelasnya memanggilnya papi? Ini pasti karena kebodohannya yang memanggil Chajeong dengan sebutan mami di Sekolah. Teman-temannya mulai merengek padanya seakan dia memang ayah mereka. Aneh kan? Dia sendiri tak paham kenapa menjadi seperti ini tapi ia menjadi lebih dekat dengan teman-temannya, tidak seperti dulu yang selalu menyendiri.

Chajeong juga mengalami hal yang sama, kini tak ada lagi memanggil dirinya dengan sebutan Professor, kebanyakan murid suka menggodanya dengan memanggilnya mami. Apa itu berarti murid-muridnya sudah tak menghargai dirinya lagi sebagai seorang Guru? Tapi ia membiarkan saja muridnya memanggil mami, ia sendiri juga ingin dekat dengan anak didiknya. Bukankah guru juga orang tua kedua seorang anak? Professor hanya sebuah gelar, tapi tugasnya tetap mendidik seperti seorang ibu ke anaknya.

=====KeiCha=====

Udara makin terasa dingin, pertanda musim dingin akan datang. Hari ini tak bersahabat bagi Chajeong. Teror dari orang yang sering sms dia tak sampai disini, hari itu ia mendapat kiriman surat di Sekolah.

“Cha. Ini ada surat untukmu. Aneh, tidak ada alamat pengirimnya cuma di tulis untuk Prof. Chajeong.” Ujar Chullie saat masuk ke ruangan Chajeong. Ia menyerahkan sebuah amplop besar berwarna coklat. Chajeong membolak-balik amplop itu, benar kata Chullie tidak ada alamat pengirimnya. Dengan penasaran ia membuka amplop itu, beberapa detik ia hanya terdiam, syok, jantungnya seperti dihantam benda berat, Chullie juga ikut ternganga melihat isi dari amplop di hadapan mereka.

Tumpukan foto, ia sangat mengenal jelas orang dan moment dari objek foto-foto itu. Foto dirinya dengan Kei. Kesadarannya mulai dikumpulkan lagi, tangan mulai dingin saat ia mengambil tumpukan foto itu dan mulai membalik-baliknya. Ada beberapa foto saat ia tertawa bersama Kei, ada foto saat mereka masuk ke rumah mereka, foto saat mereka boncengan, foto saat mereka berciuman, dan masih ada beberapa lembar foto lagi.

Tubuh Chajeong terasa limbung. Tangannya langsung menopang di atas meja kerja. Siapa yang memotretnya diam-diam selama ini? Apa tujuannya? Berbagai pertanyaan dan asumsi berputar di kepalanya. Ucapan Chullie membuat kesadarannya kembali lagi, “Cha. Lihat, ada suratnya juga.”

Chajeong langsung menyambar selembar kertas dari tangan Chullie. Surat kaleng, bukan tulisan tangan tapi dari potongan-potangan kertas yang membentuk tulisan, ‘Berpisahlah dengan Kei atau ku bongkar rahasia ini ke Media Massa!’

 

Tangannya bergetar memegang surat itu. Ini bukan lelucon lagi, orang itu sudah punya kartu AS berupa foto-foto itu yang tak bisa di sangkal. Bagaimana jika berita ini sampai ke tangan wartawan? Bukan cuma karirnya yang berakhir, tapi image sekolah ini akan tercemar, juga terpaksa Kei harus di keluarkan dari Sekolah. Semua hal yang ia cintai akan hancur.

Pikirannya sangat kalut. Ia berjalan keluar, tak mendengar perkataan Chullie, karena semua inderanya tak bisa berjalan dengan sempurna. Hanya satu orang yang ingin ia temui. Tapi hatinya kembali tertusuk saat melihat Kei mengobrol mesra dengan seorang gadis, tatapan matanya lembut dan sesekali mengelus rambut gadis itu. Jika tak salah lihat gadis itu yeojachingu adik angkatnya Ji Yong dan juga gadis yang sempat Kei sukai. Chajeong tak mau berlama-lama di tempat itu. Ia berlalu dengan perasaan sedih, sesak, bingung, syok, semua bercampur jadi satu.

=====KeiCha=====

Sementara itu Kei sedang berbincang-bincang dengan Ryeotha tanpa mengetahui kehadiran istrinya. Sebelum masuk sekolah ini mereka memang sudah saling mengenal, hanya Ryeotha yang ia kenal saat Kei menginjakkan kaki disini.

“Oppa. Bagaimana keadaanmu?” tanya Tha dengan perasaan bersalah. Kecelakaan itu karena dirinya. Jika saja ia tak meminta Kei mengantar dirinya check up ke Rumah Sakit, tak akan ada kecelakaan itu. Perasaan sangat bersalah meliputi dirinya, apalagi saat melihat Kei kembali dengan luka yang membuat orang bergidik. Jika hari ini bukan Kei yang menyapanya terlebih dahulu, ia tak akan mampu berbicara dengan Kei lagi.

Kei menatapnya lembut, mengerti kegelisahan yeoja yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri. “Gwenchana. Aku sudah tidak kenapa-napa.” Ujarnya sambil mengelus kepala Tha menenangkannya.

Beban Tha seperti terangkat. Rasa bersalahnya memang masih ada, tapi tidak seperti beban lagi. Setidaknya Kei tak menyalahkan dirinya karena insiden itu dan hubungan mereka masih bisa berjalan dengan baik.

=====KeiCha=====

Tanpa Chajeong sadari langkahnya menuju bukit belakang Sekolah, ia duduk di bawah pohon pinus yang selalu menyejukkan. Tangisnya sudah tak terbendung lagi, menjerit, menangis sejadi-jadinya. Kenapa begitu sulit cobaan di pernikahannya?!

Tak mengerti harus bagaimana menghadapi masalah ini. Apa memang harus melepaskan Kei untuk kepentingan banyak orang? Jika mereka berpisah maka Sekolah yang telah dirintisnya dengan susah payah akan aman, Kei tak perlu dikeluarkan dari Sekolah. Ia juga masih tetap bisa menjadi Professor seperti cita-citanya. Apa memang harus seperti itu?

Saat semua pemikiran yang hampir membuatnya gila, ia melihat kembali pahatan di Pohon Pinus ‘Kei Love Cha, Will Never End’. Will never end. Kata itu terus berdengung di kepalanya bagai sebuah mantera. Mengembalikan semua semangatnya, kepercayaan dirinya, kekuatannya. Jangan pernah ada kata berakhir, apapun masalahnya pasti ada jalan keluarnya. Ia tak boleh menyerah hanya karena ancaman seseorang. Mempercayai Kei bahwa namja itu hanya mencintai dirinya, jangan goyah karena kejadian tadi.

Chajeong langsung bangkit dan mengelap sisa air matanya, merenggangkan badannya, menepuk-nepuk kedua pipinya. Saat dipikir energinya telah pulih, ia kembali ke gedung Sekolah. Selama berjalan ia menelpon seseorang.

“… Ne. Cari tau siapa pengirim surat itu dan lacak pemilik no. telepon yang tadi saya sebutkan. Saya minta datanya lengkap dan beri saya kabar secepatnya…”

=====To Be Continue=====

Part ini 80% dari kisah nyata KeiCha, 20% Fiksi.. Fiksinya itu yang bagian ada orang potret KeiCha, aslinya aq cuma di teror lewat sms, telepon, dan di hack FB supaya aq dan Kei putus..

Ini juga awal dari nama Fans aq ChaLoVers.. semuanya berawal dari Tira yang iseng kasih nama fans fanatik aq (peneror) dengan sebutan Chajeong Lovers.. Tapi akhirnya malah ada beberapa orang yang bilang sama aq, jadi fans aq, ngaku-ngaku ChaLoVers.. ==a

Yang udah baca comment yah.. Boleh disini, di FB or di Twitter.. ^^

Advertisements
Categories: Chaptered, Fanfiction, KeiCha, Romance | Tags: , | 7 Comments

Post navigation

7 thoughts on “FF KeiCha ‘Will Never End’ {Part 4}

  1. aku keilovers uppss chalovers maksudnya hufttt untung gk jadi di tampol eonni 🙂

    wah tuh jahat bgt ya aku sumpahin yg neror idup nya gk tentram..

  2. Pingback: .:: ChaJeong Story ::.

  3. eoni,,,lama gak posting ff,,
    Kangen ni,,, 🙂

  4. Jisankey

    huaaaaaaaaaaaaa, makin rumit aja!!!
    daebak!
    i’m tiramisu*eeeh? xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: