FF KeiCha ‘Will Never End’ {Part 3}

Author : Ratri Ismaniah aka Shin Chajeong

Genre : Romance

Rating : PG13

Cast : Shin Chajeong

Suzuki Kei

Lee Hyuk Jae

Ini FF di ambil dari Perjalanan kisah cinta Kei-Chajeong Couple dari Sekolah Suju.. Chajeong itu aku sendiri, pendiri Sekolah Suju & Professor juga.. Aku punya couple Kei, salah satu murid disana.. Kami sempat menang award Couple Termesra.. Ini kisah kami.. FF ini aq persembahin buat KeiCha Couple..

Warning: Biarpun di ambil dari kisah nyata.. Tapi ini funfiction, jadi tetep fiksi.. Posternya itu Jiro & Cyndi “Momo Love”, bukan foto kami.. XD

Yang belum liat Part sebelumnya klik disini.. Part 1 .. Part 2 ..

=====KeiCha=====

@Tenshi Hospital, Jepang

Kei membuka matanya perlahan, membiasakan diri melihat cahaya. Kepalanya masih terasa sedikit pening. Di lihatnya ruangan yang serba putih dan seorang yeoja mungil di sampingnya.

“Oniichan..” Panggil yeoja itu.

“Keiko. Aku dimana?” Tanyanya bingung, seketika tubuhnya terasa sangat sakit saat ia bergerak.

“Oniichan jangan banyak bergerak dulu. Oniichan kecelakaan, Daddy yang membawa pulang niichan ke Jepang. Niichan sudah beberapa hari tidak sadarkan diri setelah operasi. Keiko panggil dokter dulu.” Gadis itu tak jadi beranjak pergi saat kakaknya itu bersikeras ingin melepaskan peralatan yang berada di tubuhnya.

“Apa yang Niichan lakukan!!!” sentak Keiko sambil menghalangi kakaknya.

Kei menatap adiknya tajam, “Aku ingin pulang.” Ia tetap bersikeras ingin melepaskan jarum-jarum yang menempel ditubuhnya tanpa mengiraukan teriakan-teriakan dari adiknya. Pikirannya tertuju pada satu orang. Apa yang di lakukan gadis itu di Amerika, apa dia sudah pulang dengan selamat ke Korea. Tak peduli rasa sakit yang melandanya, keinginannya hanya untuk melihat gadis itu, memastikannya baik-baik saja. Seketika kepalanya di landa rasa sakit yang hebat, matanya mulai berkunang-kunang.

Keiko langsung menangkap tubuh kakaknya yang limbung tapi tubuhnya yang mungil tak dapat menopangnya sehingga mereka terjatuh, “ONIICHAN!!! SUSTER!!! SUSTER!!!” dia berkali-kali berteriak memanggil pertolongan. Beberapa suster dengan sigap masuk ke ruangan itu membantu membaringkan dan mengecek kembali tubuh Kei.

=====KeiCha=====

@Sekolah Suju, Korea

Gadis itu membetulkan lilitan syal di lehernya. Tangannya kembali dimasukkan ke dalam saku jas biru yang di kenakannya. Kepalanya di angkat saat ia mulai memasuki gerbang Sekolah.

“Annyeonghaseyo, Prof. Chajeong.” Siswa-siswa berseragam Sekolah Suju menundukkan kepala saat gadis itu melewati mereka. Senyuman ia berikan membalas sapaan-sapaan siswanya.

“Chaerim-ssi kemana kamu semalam? Pergi sama Kyi lagi lewat jam asrama?” Tanyanya tajam saat bertemu dengan seorang siswa. Siswa itu tertunduk, “Jeoseonghamnida, Prof.”

“Klo mau pacaran, jangan lewat jam malam lagi. Arasseo.” Ujarnya lagi sambil tersenyum.

Ia berjalan lagi melewati pepohonan yang mulai menguning dan menggugurkan daunnya satu persatu. Musim panas telah usai, udara dingin mulai berhembus. Langkahnya tak berhenti di gedung Sekolah, kakinya tetap melangkah menuju balik gedung itu, menelusuri rimbunan pohon pinus yang tetap hijau di musim gugur.

Kini ia berjongkok di depan Pohon Pinus yang besar. Tangannya menyentuh pahatan di batang pohon itu yang bertuliskan, ‘Kei Love Cha, Will Never End’. Kilasan-kilasan memory tentang ia dan suaminya berkecamuk di benaknya.

“Kei, cepat pulang. Aku mengunggumu.” Ujarnya lirih sambil menahan butiran airmata jatuh di pipinya.

=====KeiCha=====

Waktu terus berputar, sudah dua minggu tak ada kabar apapun dari Kei. Esok adalah hari Ulang Tahun Chajeong. Hari yang selalu penuh kebahagiaan untuk dirinya, tapi sekarang? Semua terasa hampa, kebahagiaan seperti apa yang ada jika tak ada suami di sampingnya. Ia menyibukkan diri dengan berbagai pekerjaan sampai lupa mentari sudah tertidur.

Ia melirik ke Arloginya, sudah menunjukkan pukul 8 malam, terlampau lewat dari jam kerjanya yang hanya sampai pukul 5 sore. Dengan enggan ia keluar dari area Sekolah yang sudah nampak sepi. Raut wajahnya datar di sepanjang perjalanan, kepalanya di senderkan ke kaca saat berada di dalam Bis. Ia sudah tak mempedulikan bis itu akan membawanya kemana, ia ingin menghilang, membunuh waktu.

Pukul 10 malam saat ia turun di dekat rumahnya. Waktu 2 jam terasa sangat lama baginya. Udara sudah terasa menusuk tulang tapi tak sedikitpun membuatnya tergidik, ia berjalan perlahan menuju rumahnya. Sesaat kemudian ia tercekat melihat sesosok namja yang sedang menunggu di depan pintu rumahnya. Waktu seakan terhenti, jika ini hanya mimpi maka ia tak mau terbangun.

Namja itu tersenyum melihat Chajeong diam tak bergerak. “Mami~” ujarnya lirih saat ia memeluk istri yang sudah amat di rindukannya. Chajeong masih tak bisa percaya, suaranya tercekat, tubuhnya tak mampu merespon apapun.

=====KeiCha=====

Chajeong membuka kacamata hitamnya. Ia sungguh tak percaya, hari ini, hari dimana ia merayakan Ulang Tahunnya ia berada di Negara impiannya. JEPANG. Saat pertama tiba di Bandara Narita, yang ada di benaknya hanya, Apa ia sedang bermimpi?

Tentu saja tidak, ini hadiah ulang tahun terindah baginya. Ia merasakan pinggangnya di peluk seseorang. Ia memperhatikan lagi namja di sampingnya tanpa bisa berhenti tersenyum. Namja itu yang hadiah terindah dari Tuhan untuknya. Ia masih tak percaya kejadian semalam yang mendamparkan mereka sekarang di Jepang.

*Flashback*

Masih dipandanginya namja di depannya itu, oh tidak, lebih tepatnya suami tercinta yang sudah menghilang berminggu-minggu. Tubuh Kei terlihat lebih kurus, ada bekas jahitan memanjang di kepalanya yang membuat hatinya miris.

Begitupula dengan Kei, ia tak berenti memandangi istrinya itu. Bekali-kali ia ingin cepat kembali, tapi tak bisa. Tapi tekatnya yang kuat membuatnya berada disini. Semua rasa sakit, perjuangan keras untuk cepat pulih dengan Terapi yang berat semua terbayar sudah.

“Papi kemana saja? Kenapa gak kasih kabar?” tanya Chajeong membuka pembicaraan. Bahkan ia tak perlu lagi jawaban, cukup mengetahui sekarang Kei baik-baik saja dan ada di hadapannya sudah cukup.

“Mianhae. Papi habis operasi, jadi baru bisa pulang sekarang.” Ujar Kei lembut. Raut wajah Chajeong kembali muram, disentuhnya bekas jahitan di kepala suaminya, “Operasi apa? Gimana kondisi papi sekarang?”

Kei tersenyum, memasang wajah ceria, menyembunyikan hal-hal yang akan membuat khawatir istrinya, “Gwenchana. Mami gak usah khawatir lagi, sekarang papi disini.”

Ya, yang penting dia disini, itu pikir Chajeong. Ia merubah suasana supaya ceria lagi, dengan iseng ia bertanya, “Papi tau besok hari apa?”

“Ulang tahun mami kan?” goda Kei membuat Chajeong terbelalak tak percaya.

“Papi inget ulang tahun mami?” tanyanya tak yakin.

“Yah, masa papi lupa Ulang Tahun anae sendiri. Mami mau hadiah apa?”

Chajeong tak berhenti tersenyum. Hadiah? Bahkan Tuhan sudah membirikan hadiahnya terlebih dahulu. “Aku tak mau apapun. Aku hanya ingin menghabiskan waktu sama papi aja.” Ujarnya tulus.

Kei tersenyum, “Aku akan mewujudkannya. Ada tempat yang mau mami kunjungin?”

Chajeong tampak berpikir, “Aku ingin Honeymoon ke Jepang.”

*Flashback End*

Disini lah mereka sekarang. Jepang. Chajeong masih tak percaya. Dia hanya bercanda saat mengatakan ingin ke Jepang. HONEYMOON. Bahkan dia tak pernah berpikir akan adanya Honeymoon di pernikahan mereka.

Kalian pasti akan berpikir bahwa Tokyo itu ‘WOW’. Berbeda dengan Seoul, kota ini sangat padat. Setiap sudut kota terdapat tulisan Kanji dan Hiragana yang membuat kening Chajeong berkerut. Kendala seseorang saat memasuki Negara lain adalah Bahasa. Chajeong sama sekali tak mengerti bahasa Jepang.

Tapi apa yang perlu di khawatirkan saat ada seorang suami disampingnya yang warga Jepang asli. Kalian tentu sadar kan, namanya Suzuki Kei, dilihat dari namanya pun sangat ketara dia bukan orang Korea. Jika kalian perhatikan lebih detail, wajah khas orang Korea dan Jepang berbeda.

Chajeong menggenggam tangan Kei, “Papi jangan pergi jauh-jauh dari mami. Papi gak mau kan aku jadi gelandangan Jepang?!”

Kei mengelus lembut rambut Chajeong, “Arasseo.”

Mereka memesan sebuah kamar hotel dan berjalan-jalan keliling kota Tokyo. Sepasang pria dan wanita berjalan berjalan bergandengan tangan, bercanda, tertawa bersama, seperti pasangan yang sedang berkencan. Ini pertama kalinya mereka bisa berkencan seperti pasangan normal pada umumnya.

Kei menggenggam erat jemari Chajeong di tengah ramainya daerah Shibuya. Toko-toko berjejer di sepanjang jalan. Kei menatap Chajeong, “Mami mau dibeliin apa?”

Chajeong mengangkat bahunya, “Terserah. Kan papi yang mau kasih hadiah.”

Kei menopang dagunya sebentar sambil memperhatikan toko di sepanjang jalan Shibuya. “Kita kesana saja.” Kei menujuk satu toko, ia menarik tangan Chajeong memasuki toko Handphone tersebut.

“Mami mau yang mana? Pilih aja.” Ujar Kei lagi sambil menunjuk etalase yang memamerkan berbagai macam Hp terbaru.

Chajeong menatapnya heran. “Hp? Tapi mami kan belum lama beli Hp ini.” ujar Chajeong dengan menunjukkan Hp-nya.

Kei menyentil dahi istrinya pelan, “Hp itu mana bisa di pakai di Jepang! Klo mami hilang disini, gimana papi bisa hubungi mami?”

Chajeong menganggukkan kepalanya, “Papi aja yang pilihin, tapi aku mau yang warnanya merah.”

Kei langsung berbicara dengan penjaga toko itu dengan bahasa Jepang. Kei memberikan bungkusan pesanannya ke Chajeong. Ia terkejut melihat sepasang Hp yang di beli Kei. I-Phone keluaran terbaru berwarna merah dan hitam.

“Papi. Ini kan mahal banget. Sayang uangnya.” Chajeong menatap nanar I-Phone merah yang ada di tangannya.

“Jangan protes! tadi minta di pilihin. Itu hadiah buat mami.”

Chajeong tersenyum, “Jadi sekarang Hp kita sepasang. Gimana klo kita kasih nama ke Hp-nya?”

Kei tertawa memdengar usul aneh dari istrinya, “Emangnya mami mau kasih nama apa?”

“Hmmm. Apa yah? Gimana klo Hp aku namanya Kei, Hp papi namanya Chajeong?”

Kei mengacak-acak rambut Chajeong, “Ok, mami-ku sayang.”

Chajeong tersenyum puas, ia terus menatap Hp barunya dan berkata pada Hp itu, “Kei. Kamu beruntung dimiliki yeoja yeoppo kayak aku.”

Kei tersenyum, ia langsung merangkul pundak istrinya, “Sekarang mau kemana lagi?”

Siang itu mereka berbelanja di Shibuya, Chajeong tak menyadari perubahan wajah Kei yang mulai memucat. Mereka melepas lelah di sebuah taman.

“Bunga Sakuranya belum mekar, padahal aku ingin membawamu melihat bunga sakura disini.” Ujar Kei sambil menatap pohon sakura yang hampir tak berdaun.

“Lain kali papi harus mengajak aku kesini lagi.” Kata Chajeong.

“Ne. Nanti aku akan mengajakmu kesini lagi.”

“Yasok?” tanya Chajeong dengan mengacungkan jari kelingkingnya.

“Yasok.” kata Kei pasti dan menautkan kelingking mereka.

“Papi beli minum dulu yah. Mami tunggu disini, jangan kemana-mana sebelum papi datang.” Kei bangkit hendak pergi tapi Chajeong menahannya, “Jangan lama-lama.”

“Cuma sebentar.” Kei pergi meninggalkannya.

Terkadang ucapan hanya sekedar hiasan, tapi siapa yang pernah tau masa depan? Tak ada yang menduga Kei kembali merasakan sakit kepala yang hebat saat akan kembali, sampai ia jatuh pingsan.

Chajeong tetap menunggu. 10 menit, 20 menit ia mulai gelisah, ia baru sadar Hp suaminya masih ada di dalam plastik yang dipengangnya. Buat apa ada Hp jika tak bisa di gunakan? 30 menit sampai 1 jam berlalu. Ia makin gelisah, apa yang terjadi? Kenapa begitu lama?

Chajeong mondar-mandir, melihat sekeliling taman tapi ia tak menemukan sosok suaminya. 3 jam ia masih disana. Lama-lama ia mulai putus asa, hanya terduduk dengan jemarinya yang mulai membeku ditengah udara musim gugur. Tapi ia masih bertahan disana, menunggu.

Seorang namja dengan membawa kamera di tangannya sedang mencari objek yang menarik. Sesaat lensa kameranya menangkap seorang wanita yang duduk sendiri dengan wajah pucat dan pandangan kosong. Ia merasa amat mengenal sosok itu, ia memastikan dengan matanya sendiri, kemudian berlari menghampiri yeoja itu saat menyadari dugaannya benar.

“Chajeong-ah. Kenapa kau ada disini? Kau kedinginan?” tanya namja itu dengan cemas, ia melepaskan syalnya dan dililitkan ke leher yeoja di depannya. Chajeong hanya menatapnya dengan pandangan kosong tapi perlahan matanya mulai berkaca-kaca. “Oppa..” ujarnya lirih.

=====KeiCha=====

“Honeymoon? Menikah? Dengan muridmu?!” tanyanya tak percaya saat Chajeong usai menceritakan kenapa ia berada disana. Chajeong hanya mengangguk menjawabnya.

“Lalu mana suamimu?” tanyanya lagi penasaran.

“Molla. Tadi katanya mau membeli minum tapi udah 4 jam belum kembali. Aku diminta menunggunya disini.” Ujar Chajeong.

“YA! Suami macam apa dia meninggalkanmu di negara asing sendiri, saat udara seperti ini, BERJAM-JAM! PABO!” Sentaknya dan menarik tangan Chajeong pergi dari sana.

Chajeong memberontak, “Oppa! Kita mau kemana? Aku harus menunggunya. Oppa…”

“Dia tidak akan datang. Kau bisa mati kedinginan disini. Ke apartemenku dulu, baru kita pulang ke Korea.” Paksanya.

“SHIRO! OPPA, LEPASKAN! Ya, LEE HYUK JAE.. LEPASKAN!” Chajeong melepaskan dengan paksa cengkraman Hyuk Jae.

“Antar aku ke Hotel aja.” Ucapnya lirih.

Hyuk Jae mengantar Chajeong ke hotelnya. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Ia sendiri tak pernah menyangka bisa bertemu lagi dengan yeoja yang dulu pernah jadi bagian masa indahnya dan cintanya dengan cara seperti ini. Perasaannya berkecamuk, waktu 3 tahun mengubah segalanya, jika ia tak pergi ke Jepang untuk pekerjaannya mungkin saat ini ia lah yang menjadi suami Chajeong.

“Tidak apa-apa kau sendiri? Apa mau makan dulu? Aku belikan makanan buatmu yah?” tanya Hyuk Jae yang masih cemas ingin meninggalkan Chajeong sendiri di Hotel.

“Gwenchana. Oppa pulang saja, nanti Kei pasti menemuiku.”

“Hubungin aku jika terjadi sesuatu.” Ujar Hyuk Jae dan dijawab anggukan Chajeong. Dengan enggan ia pergi meninggalkan Chajeong.

=====KeiCha=====

Sementara itu di sebuah klinik, Kei membuka matanya. Ia melihat dengan heran sekeliling tempatnya yang berwarna putih.

“Kau sudah sadar. Jangan banyak bergerak dulu. Tubuhmu masih lemah, saya panggilkan dokter dulu.” Ucap seorang suster yang segera keluar dan tak berapa lama seorang dokter masuk ke ruang tempat Kei berada.

“Berapa lama aku pingsan?” tanyanya sambil berusaha bangkit dari tempat tidurnya.

“Duduklah dulu. Kau pingsan cukup lama. Apa kau baru operasi? Sebaiknya kau harus segera periksakan lagi di Rumah Sakit. Pingsan seperti ini tak wajar, mungkin ada efek samping dari operasi atau penyakit lain.” Kata Dokter itu.

“Saya mengerti dok. Terima kasih.”

Kei meninggalkan klinik itu, dilihatnya langit hitam sudah menggantung, jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Sudah 5 jam ia meninggalkan Chajeong. Ia segera berlari menuju taman itu tapi sudah tak ada siapapun. Ia langsung memanggil taksi dan memintanya meuju ke Hotel.

Perasaan bersalah menyelimutinya, ia tak bisa menepati janji. Apa jadinya jika Chajeong juga tak ada di Hotel. Tapi sekelebatan pikiran terlintas di benaknya, di hari-hari saat ia di rawat di Rumah Sakit.

*Flashback*

“Ada gumpalan darah di kepalamu karena kecelakaan itu. Saat operasi kami berusaha mengambilnya, tapi ternyata ada tumor ganas yang tidak bisa kami angkat semua. Sebelum kecelakaan itu kau memiliki tumor, karena kecalakaan sel tumor itu langsung membelah diri dengan cepat atau sering kita sebut Kangker Otak. Kau harus melakukan terapi untuk menghambat pertumbuhan tumor itu.” kata Dokter yang memeriksa hasil CT Scan terakhir Kei.

Kei tertenggun mendengar penjelasan Dokternya. Jantungnya bertedak lebih cepat. “Seberapa parah penyakit saya dok?”

“Cukup berbahaya, jadi lebih cepat terapi lebih baik.”

Kei menyadari sesuatu, “Dok. Saya tinggal di Korea. Apa terapi ini bisa di lanjutkan di Korea?”

“Bisa. Tapi harus langsung memeriksakan diri sesampainya di Korea. Tubuhmu belum stabil, jadi jangan beraktifitas banyak dulu. Banyak istirahat, minum obat teratur, dan jangan lupa harus lanjutkan terapinya.”

*Flashback End*

Kangker Otak. Penyakit Pelahap Maut. Hal ini tak dapat Kei katakan pada istrinya, ia tak ingin membuat Chajeong cemas. Sampai kapan hal ini akan terus ditutup-tutupi? Suatu hari Chajeong pasti akan tau. Tapi tidak untuk hari ini, Kei belum siap untuk memberitahunya.

=====To Be Continue=====

Note Chajeong:

“Kei, gomapseumnida.. Kamu datang tepat pas malam ulang tahun aq.. Kamu bilang, aq org pertama yang kamu hubungin setelah operasi.. Kei pernah bilang, Honemoon kita gak menyenangkan coz kamu ninggalin aq.. Tp buat aq, hari itu hari yang spesial coz kamu ada..”

Note Ratri:

“Eunhyuk disini buat gantiin peran mantan aq.. Part ini lama aq terbitin coz aq minta izin dulu sama Kei buat ceritain tentang sakitnya.. Harusnya aq publish ini saat dia minta.. Sekarang apa dia masih bisa baca lanjutan cerita ini?? Saat ini aq udah tau akhir cerita KeiCha.. Aq sebagai pemegang akun Chajeong bakal tepatin janji.. Status Chajeong cuma buat Suzuki Kei..”

Yang udah baca comment.. 😀

Advertisements
Categories: Chaptered, Fanfiction, KeiCha, Romance | Tags: , , | 7 Comments

Post navigation

7 thoughts on “FF KeiCha ‘Will Never End’ {Part 3}

  1. key^^

    uwaaa T.T ngebut baca part 1 smpe 3, hiks
    sediiiih.
    speechless.
    fighting onnie!!

  2. Pingback: FF KeiCha ‘Will Never End’ {Part 4} « .:: ChaJeong Story ::.

  3. kei kei kei bisa sembuh kan?
    Loh kok ada hyuk oppa?
    Kei ama chajeong aja jgn di pisahin..
    biar hyuk oppa ketemu aku di jepang jadian deh 😀

    • Hyuk itu gantiin mantan aq.. Males banget kan pake nama mantan.. hahaha..
      Jangan donk.. Unyuk masih tetap milik aq.. 😀

  4. Jisankey

    kei T.T*kojadisediihyak..*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: