FF KeiCha ‘Will Never End’ {Part 2}

Author : Ratri Ismaniah aka Shin Chajeong

Genre : Romance

Rating : PG13

Cast : Shin Chajeong

Kei Suzuki

Ini FF di ambil dari Perjalanan kisah cinta Kei-Chajeong Couple dari Sekolah Suju.. Chajeong itu aku sendiri, pendiri Sekolah Suju & Professor juga.. Aku punya couple Kei, salah satu murid disana.. Kami sempat menang award Couple Termesra.. Ini kisah kami.. FF ini aq persembahin buat KeiCha Couple..

Warning: Biarpun di ambil dari kisah nyata.. Tapi ini funfiction, jadi tetep fiksi.. Posternya itu Jiro & Cyndi “Momo Love”, bukan foto kami.. XD

Yang belum liat Part sebelumnya klik disini.. Part 1

=====KeiCha=====

Chajeong membawa koper-kopernya keluar dari Wisma KepSek. Setelah ia mengundurkan diri dari jabatan Kepala Sekolah sudah pasti ia tak memiliki hak lagi menempati kediaman Kepala Sekolah. Tapi, ia tak tau harus kemana. Rumah orang tuanya jauh di daerah Selatan. Ia menghampiri Kei yang sudah menunggunya di depan pintu.

“Aku tinggal dimana pi?” tanya Chajeong dengan raut muka sedih.

“Sekarang kau itu istriku. Kau harus tinggal bersamaku. Kajja.” Kei merebut Koper dari tangan Chajeong.

“Kita mau kemana?” tanya Chajeong lagi dengan masih tak bergeming dari tempatnya.

Kei menarik tangan Chajeong, “Tentu saja ke rumahku. Ke rumah kita.”

Yeoja yang sedang ditariknya masih tampak kebingungan, “Memangnya papi punya rumah?” Kei menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Chajeong, disentilnya pelan dahi yeoja itu.

“Mami pikir sebelum aku tinggal di dorm, aku tinggal dimana, hah? Tentu saja papi punya rumah.”

Kei membawa Chajeong ke suatu sudut kota Seoul. Tampak sebuah apartemen yang tak terlalu besar tapi layak huni. Di dalamnya terdapat ruang tamu yang merangkap ruang keluarga, ruang makan dan dapur mini. Mata Chajeong memperhatikan setiap sudut rumah barunya sampai ia menyadari sesuatu.

“Pi. Kamarnya cuma 1. Aku tidur dimana?” tanya Chajeong polos.

“Kita kan sudah menikah, yah kau tidur denganku lah.”

Chajeong membulatkan matanya, “MWO?!” Sedangkan Kei menatapnya heran, “Waeyo?”

Chajeong terlihat tampak gugup, “A.. Ani.. Gwenchana.” Ia sama sekali tak pernah berpikir kehidupan setelah menikah.

Kei seakan bisa membaca pikiran Chajeong, “Ya! Papi gak akan apa-apain mami sebelum kita siap. Cepat tidur, besok mami mau ke Amerika kan?!”

Kei mendorong istrinya itu masuk ke kamar. Dengan ragu Chajeong berbaring di samping Kei. Tapi ia sama sekali tak bisa tertidur, perasaannya sangat gugup karena ini pertama kalinya mereka tidur bersama. Di lihatnya Kei sudah terpejam.

“Good night, papiku sayang.”

“Hmmm. Jal jayo.” Chajeong tersenyum menyadari Kei yang tak tertidur seperti dirinya.

“Mimpi yang indah papi. Mimpiin aku yah.” Ujarnya lagi sambil menutup mata.

“Aku mau mimpiin Tiffany aja.” Seketika mata Chajeong membuka lebar mendengar gumaman suaminya.

“MWO?!” Chajeong langsung memukuli Kei dengan bantal.

“Papi cuma bercanda mi.” Ujar Kei sambil menghindari pukulan bantal dari istrinya, tapi Chajeong tetap marah.

“Aku gak mau tidur sama orang yang mimpiin yeoja lain. Pergi, papi tidur di luar sana!” sentak Chajeong dengan mendorong suaminya keluar kamar, lalu ia mengunci pintu kamar.

Kei mengetok-ngetok pintu kamar tapi tak dibukakan juga, “Mi, papi tidur mana? Papi tadi cuma bercanda. Buka pintunya mi.”

“Tidur di sofa sana!” Teriak Chajeong dari dalam kamar.

Kei mengacak rambutnya frustasi, “Aisshhh. Malam pertama tidur di sofa.”

=====KeiCha=====

Pagi hari Kei terbangun dengan malas, ia merenggangkan tubuhnya karena sakit tertidur di sofa yang tak begitu luas. Di lihatnya jam sudah pukul 8 pagi, tapi rumahnya masih terlihat sepi. Apa istrinya belum terbangun juga? Beruntung sekarang sudah masuk libur musim panas, jika tidak tentu mereka akan telat ke Sekolah.

Kei ingat hari ini jadwal istrinya ke Amerika dengan penerbangan siang. Ia mengetuk-ngetuk pintu kamarnya. Saat pintu itu terbuka, tampak wajah pucat dari istrinya.

“Mami sakit?” Chajeong menggeleng lemah. Tangan Kei menyentuh dahi istrinya itu, sangat panas.

“Badanmu panas jagi. Nanti jadi ke Amerika?”

Chajeong mengangguk lemah. “Aku tidak bisa membatalkan penelitian ini. Sudah terikat kontrak.”

“Mami itu keras kepala. Papi gak bisa halangin mami. Penerbangannya masih nanti siang kan?! Sekarang mami istirahat dulu, papi masakin bubur buat mami.”

Kei langsung ke dapur menyiapkan bubur, obat dan alat kompres. Dengan sabar ia menyuapi dan mengompres istrinya sampai saatnya mereka harus pergi. Kei sangat tak tega membiarkan istrinya pergi seorang diri ke tempat yang jauh dalam keadaan sakit seperti ini. Tapi ia sadar, tak bisa menahan kepergiannya. Di Bandara Incheon mereka harus berpisah. 3 hari seakan waktu yang amat berat di lalui.

“Sesampainya disana mami harus kabarin papi.” Kata Kei sebelum mereka berpisah.

Chajeong mengganggukkan kepalanya, “Ne. Arraseo.”

Kei seakan tak mau melepas kepergian istrinya, di peluk erat istrinya itu tak peduli beberapa pasang mata memperhatikan mereka, “Papi benar-benar khawatir sama keadaan mami. Mami jaga kesehatan mami disana yah. Jika ada apa-apa, mami langsung hubungi papi. Take care.”

Chajeong membalas pelukan Kei sebelum akhirnya mereka benar-benar terpisah. Tak ada yang pernah tau esok hari akan seperti apa. Saat Tuhan memiliki kehendak lain, tak ada yang dapat mengingkarinya. Mereka tak akan pernah tau, pelukan itu adalah pelukan terakhir sebelum mereka di pisahkan oleh Takdir.

=====KeiCha=====

Hari pertamanya di Amerika dihabiskan dalam ruangan laboratorium. Berkutat dengan puluhan botol-botol tabung reaksi. 3 hari waktu yang singkat bagi Chajeong untuk memeliti tapi waktu yang terasa lama saat harus berpisah dengan seseorang yang di cintainya.

Komunikasinya dengan Kei masih tetap berjalan lancar saat hari pertama. Tapi tak pernah ia sangka, pagi di hari kedua-nya menjadi hari paling kelabu di hidupnya. Sebuah panggilan masuk di HP-nya memaksanya bangun dari mimpi indah, keningnya berkerut karena no. asing masuk ke HP-nya.

“Yeobseo.. Mwo?! Kecelakaan? Pingsan?”

Hp-nya langsung terjatuh. Seluruh tubuhnya gemetar mendapat telepon pagi itu. Airmatanya tak henti-hentinya mengalir. Tapi sebisa mungkin kesadarannya di pulihkan kembali. Ia mengambil Hp-nya lagi dan mengubungi no. seseorang.

“Yeobseo. Hai, Cha. Lagi di Amerika yah? Gimana penelitianmu disana?” ujar seseorang saat menjawab telepon Chajeong.

Chajeong tak menjawab pertanyaannya, suaranya gemetar saat berkata, “Chullie. Kei kecelakaan, dia pingsan.”

“Mwo?! Kecelakaan? Gimana kondisinya?”

Chajeong tak bisa hentikan tangisannya, “Molla. Tadi ada yang menghubungiku, dia ada di Rumah Sakit Seoul. Kau bisa mengecek keadaannya? Aku tak tau harus gimana lagi. Aku akan pulang secepatnya.”

“Ne, aku akan segera kesana. Uljima, nanti aku akan mengabarimu secepatnya.”

=====KeiCha=====

Dunia tampak suram dimatanya. Hari terakhir Chajeong bekerja dengan perasaan tak enak, ia berusaha untuk melakukan yang terbaik tapi tak bisa. Pikirannya tertuju pada satu orang, sampai ia tak sadar saat tabung reaksi yang dipegangnya jatuh dan cairannya membakar jarinya.

Suara-suara orang disekitarnya terdengar sayup. Ia menangis sejadi-jadinya, menumpahkan rasa sesak di dada. Orang berpikir ia menangis karena menahan sakit saat jemarinya melepuh, tapi tak ada yang mengerti bukan rasa sakit itu yang melandanya. Bahkan ia tak punya rasa lagi tuk merasakan rasa sakit di jarinya, hatinya yang terlalu sakit. Ia kembali teringat pembicaraannya terakhirnya dengan Chullie.

“Menurut kesaksian orang, Kei kecelakaan motor, kepalanya terbentur. Kondisinya kritis saat masih di Rumah Sakit. Saat aku pergi kesana, dia sudah tidak ada. Pihak keluarganya membawa dia ke Jepang. Yang sabar, jagi.”

Bagaimana ia bisa bersabar. Ia merasa seakan tak pantas menyandang status istri seorang Kei Suzuki. Saat suaminya dalam kondisi kritis, ia tak berada disana. Bahkan ia tak tau sekarang bagaimana kondisi suaminya. Pernikahannya hanya mereka yang tau, tak ada keluarga, tak resmi secara hukum.

=====KeiCha=====

Perjalanan pulang ke Korea berjam-jam merupakan waktu yang panjang dan melelahkan. Tapi waktu tak lagi terasa bagi Chajeong, ia tak merasakan apapun disekelilingnya, terlalu hampa. Saat taxi berhenti di depan Sekolah, dengan tergesa ia menyeret kopernya. Ia semakin tak sabar, Chajeong melepaskan begitu saja kopernya, langkahnya semakin cepat dan berlari menelusuri lorong sekolah yang masih sepi. Di bukanya paksa ruangan yang bertuliskan Kepala Sekolah diatasnya.

Chullie tersentak kaget saat ada seseorang yang masuk begitu saja ke ruangannya, “CHA?! Kau sudah pulang?”

Chajeong tak mempedulikan sambutan Chullie. Ia menghampiri satu lemari dan membuka satu persatu arsip disana. Chullie mengerti apa yang sahabatnya cari, “Tidak ada. Di datanya hanya ada rumahnya yang di Korea, tak ada keterangan tempat tinggal dan keluarganya di Jepang.”

Map yang dipegangnya jatuh mendengar penjelasan Chullie. Kakinya tak mampu lagi menopang berat tubuhnya, ia jatuh terduduk, tubuhnya kembali gemetar dan dingin, bulir-bulir kristal kembali mengalir dari matanya.

“Bagaimana aku bisa menemukannya? Bagaimana aku tau keadaannya? Jepang… Jepang…”

Chullie menghampiri Chajeong dan memeluknya. Ia sendiri tak tau apa yang harus di lakukannya, Jepang terlalu luas untuk mencari tau keberadaan seseorang.

=====KeiCha=====

Waktu terus berputar, hari berganti hari. Libur musim panas pun usai. Tak ada yang berubah, Sekolah masih tetap sama. Tapi terasa lain bagi Chajeong, ia menyadari ada satu bangku kosong yang ditinggalkan penghuninya. Tak ada lagi yang menemaninya berteduh dibawah pohon pinus.

Ia selalu tersenyum di hadapan semua muridnya, seakan semua baik-baik saja. Tapi ia tak bisa membohongi dirinya sendiri, ia tak baik-baik saja. Pandangannya kosong saat menatap bukit belakang Sekolah dari ruangan Kepala Sekolah. Chullie masuk ke ruang itu sambil memijat lehernya.

“Jadi Kepala Sekolah capek jagi, kau cepatlah selesaikan penelitianmu itu dan jadi Kepala Sekolah lagi.” Kata Chullie sambil menyenderkan dirinya di kursi Kepala Sekolah.

“Kau pasti bisa.” ucap Chajeong dengan pandangan kosong. Chullie tau sahabatnya itu masih bersedih.

“Apa belum ada kabar darinya?”

Chajeong mengeratkan genggaman tangannya, “Tak ada.”

“Ya! kau jangan bersedih terus. Hei, sebentar lagi kau akan ulang tahun. Mau hadiah apa?” ujar Chullie mengalihkan pembicaraan.

Akhirnya Chajeong berbalik menatap Chullie, “Aku tak menginginkan hadiah apapun. Yang ku inginkan dia sehat, dia berada disini, bersamaku.”

=====KeiCha=====

Malam itu entah kenapa hati Chajeong tergerak mendatangi Kapel Kecil di Sekolah, tempat yang menjadi saksi dirinya dan Kei mengucapkan sumpah sehidup, semati. Ia bersimpuh di depan altar dengan tangan terkatup. Kepalanya tertunduk, matanya terpejam saat ia memanjatkan doa secara tulus.

“Tuhan, aku tak pernah meminta apapun. Kali ini aku berada di depanmu. Aku tak meminta apapun untuk diriku, tapi untuk dirinya. Dimanapun dia berada, Tolong kau sembuhkan Kei.”

Raganya terasa amat lelah. Ia tak sadar tertidur disana.

=====KeiCha=====

@Tenshi Hospital, Jepang

“Dokter, pasien 1312 sudah sadar.” Teriak seorang suster. Ruangan 1312 bertuliskan pasien Kei Suzuki di penuhi Dokter dan Suster.

Tangan namja yang terbaring lemah dengan banyak perban di kepalanya itu menggerakkan jarinya. Dokter memeriksa matanya dan semua peralatan yang tertempel di tubuhnya.

“Cha…” ujarnya lirih.

Satu Dokter menyadari pasien itu ingin berkata sesuatu, “Apa? Kau mau berbicara apa?”

“Cha.. Cha…” tak ada lagi suara yang mampu di keluarkannya. Kepalanya terasa sangat sakit. Dokter langsung memberinya obat penenang.

=====KeiCha=====

“Cha… Cha…” terdengar sayup-sayup suara Kei memanggil Chajeong, membuat yeoja itu tersentak.

“Kei… Kei… KEI!!!” teriaknya, tapi tak ada jawaban dari ruang sunyi dalam Kapel itu. Ia kembali menangis dalam kegelapan malam. Suara tadi terdengar amat jelas di dirinya, tapi ia sadar di tempat itu hanya ada dirinya sendiri.

Apa Tuhan telah mendengar doa-nya yang tulus? Tak ada yang dapat mengerti rahasia-Nya. Takdir seperti apa lagi yang menanti mereka berdua? Masihkah ada jalan bagi mereka di persatukan kembali?

=====KeiCha=====

Awalnya aq cuma pengen bikin oneshot tapi ternyata jadi dokumenter perjalanan kisah Kei-Cha.. hehehe..

Mianhae klo banyak typo, lagi sakit jadi gak konsen nulis..

Udah baca, commentnya donk.. Klo gak bisa comment disini, bisa lewat FB or Twitter aq, liat di postingan About Me.. ^^

Gamsahamnida.. ^^

Advertisements
Categories: Chaptered, Fanfiction, KeiCha, Romance | Tags: , | 6 Comments

Post navigation

6 thoughts on “FF KeiCha ‘Will Never End’ {Part 2}

  1. aiyaaa~ cinta sejati banyak banget sih aral melintangnya -____-,
    sepintas keinget hyuk, kapel unnie di ungsiin kmana?? wkwkwk
    udah kei cepet sadar trus nikah resmi deh :p
    romantis2annya jangan lupa, unn! 😀

  2. kok jadi sedih gini sih 😦
    keicha harus bersatu !!
    kangen celotehan keicha,,
    ya tuhan persatukanlah keicha dengan cepat,cinta mereka tulus ya tuhan #amin

  3. Pingback: FF KeiCha ‘Will Never End’ {Part 3} « .:: ChaJeong Story ::.

  4. Jisankey

    sedih+terharu+penasaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: